di BIM Aku Menunggumu (part 2)
:: prelude::
(sebuah lanjutan dari sepenggal cerita kecil tentang perjalanan Adam yang lama sekali tertunda penulisannya...still..critics are welcome..)
----------
Brett menyodok pinggangku keras-keras sehingga aku terbangun mendadak dari tidurku. Mataku sudah sangat sulit kubuka akibat semalam aku harus begadang menyusun dokumen-dokumen yang harus aku bawa ke Padang hari ini.
"Whatt??!"
"Open the window, please.." jari-jarinya meraih tutup jendela pesawat yang memang masih separuh tertutup.
"Hei!" kupukul ujung sikutnya yang menyentuh dadaku, entah sengaja atau nggak, "Don't push yours to my chest!"
Walau aku bukan perempuan, kalau bagian ujung sikut dari lengannya yang segede gada menekan tulang dadaku, rasanya nyeri dan aneh juga. Aku mengedarkan pandanganku yang masih suram, maless banget rasanya memaksa diri melek. Mbak-mbak pramugari lalu lalang memastikan semua meja di depan kursi telah tertutup dan semua jendela terbuka lebar. Jujur, sampai saat ini, aku masih sering bingung, apa hubungan jendela tertutup dengan pesawat mendarat/lepas landas.
"Flight Attendants, landing position." suara si pilot pesawat melalui pengeras suara memberitahukan kepada seluruh awak pesawat bahwa pesawat sekarang dalam posisi siap mendarat. Suara mesinnya cukup bergemuruh, penahan angin di bagian sayap (aku hanya melihat yang sebelah kanan saja, karena kebetulan aku duduk di daerah seputar sayap sebelah kanan) tampak membuka. Begitu menyentuh daratan, bagian yang merenggang itu akan menjeplak naik ke atas, menahan angin dari depan. Dugg!
Roda pesawat menyentuh daratan, Alhamdulillah....Sekarang pesawat masih dalam posisi mengerem. Aku memandang ke luar jendela, bandara di Kota Padang ini ternyata sangat luas walau aku juga bisa melihat ironisnya bahwa jumlah pesawat yang mangkal tidak dalam jumlah besar. Aku sudah semakin nggak sabar ingin segera melepas sabuk pengamanku dan berlari menuruni tangga pesawat menuju bandara yang luas ini.
"I can't wait for more to see Padang, the beautifully-told-city..."
"But...how do we go to our destination? Will the committee provide us a shuttle?" tanya Brett sembari menurunkan isi kabinnya. Koridor pesawat penuh sesak dan bising, karena semua orang berebut mengeluarkan isi kabinnya sekaligus berebut turun duluan.
"I don't think so," sahutku. Aku menghidupkan handphone-ku, sedikit berharap ada rekan yang bisa menjemput kami berdua di bandara karena kami sama-sama belum mengenal Padang sedikitpun. Aku mengangkat bahu, tanda tidak ada harapan dijemput.
"But this is our first coming!" Brett mulai gusar. Tas ranselnya sudah dibekapnya di depan dada. Lautan manusia di koridor masih mengantri keluar karena pintu pesawat baru saja dibuka. Aku membuka berkas petunjuk lokasi tempat pertemuan yang akan kami hadiri.
"Hotel Pangeran..hmm..we can ask the taxi driver."
"Okay, then."
"Would you please take me a picture in front of this airport?" aku meminta Brett mengambil fotoku di depan airport besar ini...yahhh..sudah menjadi kebiasaanku mengabadikan setiap kenangan di setiap daerah yang aku kunjungi.
Sepuluh menit kemudian, kami mengantri di baggage claim.
Sepuluh menit selanjutnya, kami sudah berada di dalam taxi yang kami order membawa kami ke Hotel Pangeran Beach.
"Pangeran Beach kesini jauh ya, Pak?" tanyaku setelah melihat kuitansi taxi yang tadi diberikan oleh petugas taxi bandara, hmm...90 ribu...mahal juga untuk ukuran taxi. Aku bayangkan tarif argo taxi bandara Jakarta dan Padang hampir mirip-mirip.
"Lumayan jauh, Bang."
"Sekarang kita sampai mana?" tanyaku lagi sambil memandang keluar jendel taxi melewati jalanan yang cukup ramai.
"Ini daerah Lubuk Buaya, Bang. Kawasan ramai, apalagi kalau pagi tiba, jadi pasar disini."
"Lubuk Buaya, hmm..ada kaitannya sama Lubang Buaya di Jakarta?"
"Hahah...ndak tahu, Bang."
Baru melihat-lihat kotanya, entah mengapa aku kok tiba-tiba punya perasaan jatuh cinta. Aku suka melihat bangunan-bangunan besarnya, hampir semua dihias atap gadang, yang aku baca di Ensiklopedia, dinamakan Atap Jorong.
Semakin memasuki wilayah kota, aku semakin banyak melihat bangunan-bangunan pemerintahan yang besar dan mengagumkan. Dari sisi jalan, hmm...boleh kubilang mirip-mirip dengan kota besar manapun, ramai, banyak angkot, dan masih banyak anak-anak berseragam sekolah.
"Banyak sekolah sore disini, Pak?"tanyaku pada sopir taxi dengan suara agak kencang, maklum, dia sedang menghidupkan tape mobil dengan volume yang lumayan tinggi.
"Banyak..banyak sekali. Kita baru saja melewati daerah persekolahan tadi."
Tidak berapa lama, taxi membelok ke halaman sebuah bangunan megah. Kita sudah sampai di hotel, rupanya. Aku tidak melihat spanduk besar kegiatan yang aku dan Brett hadiri di depan halaman hotel, aku jadi ragu.
"Benar disini Hotel Pangeran Beach?"
"Iya, benar," kata sopir taxi kami yang langsung keluar membukakan bagasi.
"Have we arrived yet?" Brett ikut ragu-ragu melihatku.
"Yes, I wish. Come on."
"Ini barang-barang Abang. Ini nomor handphone saya, saya akan menjemput Abang kalau pulang nanti. Kapan kira-kira akan pulang ke Jawa?"
Heh..aku terkejut. Apa ini taxi pulang pergi?
"Err...masih agak lama. Mungkin minggu depan,"jawabku sambil menerima nomor handphonenya.
"Baiklah, hubungi saya sewaktu Abang ingin dijemput. Nanti saya jemput kesini. Berapa nomor telepon Abang?"
"Ehmm..saya saja yang kontak Bapak. Terima kasih banyak," kataku mengulurkan uang seratus ribuan.
Rupanya si sopir sudah sedia kembalian buatku, dan aku nggak perlu berlama-lama menunggu sepuluh ribuku kembali.
"Sama-sama. Jangan lupa saya tunggu teleponnya."
Aku mengangguk. Kebiasaan sopir taxi yang jarang aku temui di kota-kota besar lainnya.
Dan akhirnya, dengan bantuan panitia, aku bisa segera check in di hotel. Lelah sekali rasanya. Aku ingin mandi dan tidur dulu, karena nanti malam masih ada agenda dengan panitia, dan kegiatan workshop yang sebenarnya baru besok pagi. Brett dan aku tinggal sekamar. Dia bukan pendengkur namun aku nggak tahan dengan rokok dan hobinya minum.
"It is hot here."
Brett benar, tanpa AC kamar, cuaca di kota Padang memang panas, wajar saja, karena setahuku garis khatulistiwa melewati daerah ini, tepatnya di Bukittinggi karena disana ada Monumen Equator. Ahh..semoga kami masih ada waktu dan kesempatan untuk ke Bukittinggi yang katanya indah banget.
"Wow..beach!!" Brett berseru di depan jendela
Pantai? Aku berlari ke arah jendela, dan Subhanallah..Brett nggak bohong, kami bisa melihat pantai dengan leluasanya. Ternyata Hotel ini terletak di depan pantai. Kulihat banyak sekali calon umbul-umbul dan walau hari sudah menjelang malam, aku masih melihat banyak orang masih berkutat di sekitar pantai. Sepertinya akan ada hajatan besar di tepian pantai, entah apa nama pantainya.
"What beach is it?"
Aku mengangkat bahu. "I'll check the map."
Brett berjalan ke arah balkon sementara aku mencari-cari peta, tepat disaat telepon kamar berdering yang ternyata dari panitia. Aku batal melanjutkan rencanaku mencari peta, karena aku harus bergegas mandi. Setengah jam lagi aku sudah harus berada di lobi, ada agenda ramah tamah dengan pihak panitia penyelenggara workshop.
19.07
Sehabis aku solat Maghrib (Padang berbeda waktu solat dengan Jawa, terpaut 20 menit) aku dan Brett segera turun ke lobi.
"Hey, look at there, ten o'clock. How sexy that girl!"
Mendengar kata-kata 'sexi' otakku langsung berpikir ke bentuk cewek muda yang memakai baju ketat dan serba terbuka. Aku sudah membayangkan keindahannya. Tapi aku tidak menemukan cewek berpakaian terbuka sama sekali.
"Where the sexy girl?" bisikku sambil berjingkat, beda tinggiku dan Brett terpaut hampir 20 cm. Dia kayak raksasa saja.
"That corner, the blonde one."
"Arrgghhh..!" aku mengomel. Ternyata cewek bule. Aku nggak suka cewek bule.
Brett menepuk pundakku, "Let's sit there, near her."
Yahh..demi dia lahh..aku mengalah saja. Workshop yang akan kami ikuti bakal jarang dihadiri cewek, jadi kemungkinan bertemu cewek sangatlah minim. Jika aku tidak menulis artikel berhadiah di koran terbesar di negara ini beberapa bulan yang lalu, belum tentu aku bersama bule norak bisa terdampar kesini. Semenarik apapun materi workshop, tiket bisa sampai ke Ibukota Sumbar ini lumayan menyedot ongkos. Kalau Brett mahh...dia emang hobi jalan-jalan, bayar berapapun, asal bisa ikut aku jalan-jalan..uffggghh..
"Bapak Aryan Adam?" seorang cewek (pribumi) menghampiriku, memanggil namaku.
"Iya..saya?"
"Boleh saya lihat ID card nya, Pak?"
"Ahh..jangan panggil saya 'pak' kan saya masih muda?"godaku.
Si cewek muda itu tersenyum. Aku menyerahkan KTP-ku.
"Ohh...asli Jogja, Pak?
"Yeah..muka saya kurang njawani ya?" isengku kumat
Cewek itu tersenyum, "Saya catat dulu ya?" dia menarik kursi di seberang kursiku, menulis identitasku, lalu mengembalikannya lagi."Terima kasih, Pak."
Cewek itu pergi. Yaahh..walau dibilang nggak cantik, tapi lumayan ramah juga. Kulirik di kursi sebelahku Brett masih asyik bercengkerama dengan cewek bule incerannya. Aku mengedarkan pandanganku, siapa tahu nemu cewek lain yang lebih cantik lainnya. But it's null..nothing..none..
"HOEKKK!"
Aku muntah-muntah di kamar mandi, karena tiba-tiba mencium bau minuman keras yang sangat memusingkan kepalaku yang baru separo keisi oksigen.
"$%!&%$#&$%!!" umpatku kesal.
Yang ingin kulempari umpatan masih pules tidur di ranjangnya. Nggak tau pulang jam berapa semalam.
"Buset, dah. Berapa botol dia tenggak yak. Mentang-mentang dia nggak ikut workshop pagi ini," omelku masih tertuju kepada si penidur.
Aku mencari-cari peraturan penyewa kamar hotel yang biasanya ditempelin di seputaran dinding dekat tempat tidur. Semoga saja kutemukan pasal yang melarang penyewa kamar membawa minuman beralkoholnya ke dalam kamar. Aku nggak tahu dia abis minum apa, yang jelas bukan seperti wine yang sering dia beli (aku sampai hafal..uffhhh)
Aku bertambah mengumpat ketika nggak menemukan pasal larangan itu, yang dilarang hanya pets. Kepalaku pusing banget, tapi aku harus segera berwudhu, solat lalu mandi karena sudah jam 6.00. Subuh di Padang memang sante banget..
"Take care, dude. I'll go down to the meeting room now,"pamitku pada Brett yang masih pules. Disamping pipinya aku tinggalin notes,
'Don't ever drunk in this room or pee in the bathroom after drunk anymore although it is while I am sleeping since I still can breathe your stinky mouth in the late morning! Use guests' rest rooms, ok!'
Aku mengaca sekali lagi, membenarkan letak rambutku yang baru saja kuperciki air. Hm...seems like Mr Nice Guy..(terpaksa memuji diri sendiri).
"Have a nice day, Adam," kataku pada diriku sendiri.
Di koridor, di lift, di seputaran lobby aku belum bertemu orang yang bergaya macam aku pagi ini, hanya office boy-girl yang lalu lalang sambil tersenyum ramah.
Dan hari ini agendanya masih seputaran asal mula kegiatan disini, begitu hasil scanning mataku membaca run down acara. Hari besar buatku baru dua hari lagi, dimana aku harus tampil mempertanggungjawabkan tulisan artikelku di koran nasional bulan lalu. Semoga saja hari pembuka ini membawa moodku ke arah yang lebih baik setelah pagi ini aku harus menghadapi kegilaan Brett dengan minumannya. Apa yang dilakukannya di kamar mandi semalaman. Apa dia juga muntah-muntah? Baunya menyengat banget. Aku nggak yakin, room service mau membersihkan kamar mandi kami, atau malah meng-surcharge kami karena baunya? Ufffhhh...aku ogah banget mikirin yang bakal terjadi di kamar 308.
Tapi, rupanya Tuhan masih berbaik hati padaku karena bisa-bisanya mataku menemukan sosok manis di sela-sela kejemuanku mengikuti si pembicara. She's so sweet...rambutnya panjang, dikuncir kuda (bahasa sopannya apa sih!) wajahnya fresh banget. Tapi aku mau jaim, jaga image, nggak mau keliatan norak memperhatikannya, lagian kan belum kenal. Pikiranku tentang cewek itu kok kebawa terus yah...bahkan sampai malam harinya, saat aku dan Brett memutuskan menonton pertunjukan di pantai yang rupanya sedang ada perayaan entah apa. Ada banyak sekali perahu-perahu naga tertata rapi di tepian pantai, sepertinya untuk acara besok pagi.
"Can u drive a dragon boat?" aku asyik meneliti ukiran di badan sebuah perahu naga berwarna merah, warna kesukaanku. Aku sebenarnya nggak tahu maksud ukiran itu. Aku hanya tau, beberapa bulan lalu tim perahu naga kota Padang menang lomba di China. Cool...
Brett mengambil sebatang rokok dari kantongnya, lalu menyalakan sebatang rokoknya.
"Tina told me this morning that she wants to accompany me to Bukittinggi tomorrow."
"Who's Tina?" walau aku asyik mengamati ukiran perahu naga, aku masih mengacuhkan Brett.
"The blonde. She will absent by tomorrow."
Aku mengumpat, "@#&^%&#@%!" karena aku nggak bisa ikut jalan-jalan ke Bukittinggi.
Saking keselnya, aku sampai nggak menyadari ada paku menancap di ujung tepian kapal, dan aku memukulkan telapak tanganku ke paku itu.
"Ouchh!" teriakku.
Tanganku seperti kena tusuk kayu perahu. Hm..semoga bukan petaka buruk (idih...hari gini masih saja percaya tahayul).
"Be careful, dude!" Brett masih tegak berdiri di tempat semula sambil mengepulkan asap rokoknya alih-alih membantuku mengobati lukaku.
Di arah jalan raya, aku melihat bayang manusia berambut panjang, menaiki sepeda di dekat tembok batas pantai. Karena aku berada di sisi yang gelap dan dia membelakangi cahaya dari hotel yang gemerlapan, raut wajahnya nggak kelihatan. Rambutnya melambai-lambai. Semoga yang aku lihat ini beneran manusia, dan cewek...
Ya Tuhan, sebegitu pengennya aku punya cewek, dan sepertinya cewek Padang boljug.
(to be continued later, again)
love. rere. arleynova
(sebuah lanjutan dari sepenggal cerita kecil tentang perjalanan Adam yang lama sekali tertunda penulisannya...still..critics are welcome..)
----------
Brett menyodok pinggangku keras-keras sehingga aku terbangun mendadak dari tidurku. Mataku sudah sangat sulit kubuka akibat semalam aku harus begadang menyusun dokumen-dokumen yang harus aku bawa ke Padang hari ini.
"Whatt??!"
"Open the window, please.." jari-jarinya meraih tutup jendela pesawat yang memang masih separuh tertutup.
"Hei!" kupukul ujung sikutnya yang menyentuh dadaku, entah sengaja atau nggak, "Don't push yours to my chest!"
Walau aku bukan perempuan, kalau bagian ujung sikut dari lengannya yang segede gada menekan tulang dadaku, rasanya nyeri dan aneh juga. Aku mengedarkan pandanganku yang masih suram, maless banget rasanya memaksa diri melek. Mbak-mbak pramugari lalu lalang memastikan semua meja di depan kursi telah tertutup dan semua jendela terbuka lebar. Jujur, sampai saat ini, aku masih sering bingung, apa hubungan jendela tertutup dengan pesawat mendarat/lepas landas.
"Flight Attendants, landing position." suara si pilot pesawat melalui pengeras suara memberitahukan kepada seluruh awak pesawat bahwa pesawat sekarang dalam posisi siap mendarat. Suara mesinnya cukup bergemuruh, penahan angin di bagian sayap (aku hanya melihat yang sebelah kanan saja, karena kebetulan aku duduk di daerah seputar sayap sebelah kanan) tampak membuka. Begitu menyentuh daratan, bagian yang merenggang itu akan menjeplak naik ke atas, menahan angin dari depan. Dugg!
Roda pesawat menyentuh daratan, Alhamdulillah....Sekarang pesawat masih dalam posisi mengerem. Aku memandang ke luar jendela, bandara di Kota Padang ini ternyata sangat luas walau aku juga bisa melihat ironisnya bahwa jumlah pesawat yang mangkal tidak dalam jumlah besar. Aku sudah semakin nggak sabar ingin segera melepas sabuk pengamanku dan berlari menuruni tangga pesawat menuju bandara yang luas ini.
"I can't wait for more to see Padang, the beautifully-told-city..."
"But...how do we go to our destination? Will the committee provide us a shuttle?" tanya Brett sembari menurunkan isi kabinnya. Koridor pesawat penuh sesak dan bising, karena semua orang berebut mengeluarkan isi kabinnya sekaligus berebut turun duluan.
"I don't think so," sahutku. Aku menghidupkan handphone-ku, sedikit berharap ada rekan yang bisa menjemput kami berdua di bandara karena kami sama-sama belum mengenal Padang sedikitpun. Aku mengangkat bahu, tanda tidak ada harapan dijemput.
"But this is our first coming!" Brett mulai gusar. Tas ranselnya sudah dibekapnya di depan dada. Lautan manusia di koridor masih mengantri keluar karena pintu pesawat baru saja dibuka. Aku membuka berkas petunjuk lokasi tempat pertemuan yang akan kami hadiri.
"Hotel Pangeran..hmm..we can ask the taxi driver."
"Okay, then."
"Would you please take me a picture in front of this airport?" aku meminta Brett mengambil fotoku di depan airport besar ini...yahhh..sudah menjadi kebiasaanku mengabadikan setiap kenangan di setiap daerah yang aku kunjungi.
Sepuluh menit kemudian, kami mengantri di baggage claim.
Sepuluh menit selanjutnya, kami sudah berada di dalam taxi yang kami order membawa kami ke Hotel Pangeran Beach.
"Pangeran Beach kesini jauh ya, Pak?" tanyaku setelah melihat kuitansi taxi yang tadi diberikan oleh petugas taxi bandara, hmm...90 ribu...mahal juga untuk ukuran taxi. Aku bayangkan tarif argo taxi bandara Jakarta dan Padang hampir mirip-mirip.
"Lumayan jauh, Bang."
"Sekarang kita sampai mana?" tanyaku lagi sambil memandang keluar jendel taxi melewati jalanan yang cukup ramai.
"Ini daerah Lubuk Buaya, Bang. Kawasan ramai, apalagi kalau pagi tiba, jadi pasar disini."
"Lubuk Buaya, hmm..ada kaitannya sama Lubang Buaya di Jakarta?"
"Hahah...ndak tahu, Bang."
Baru melihat-lihat kotanya, entah mengapa aku kok tiba-tiba punya perasaan jatuh cinta. Aku suka melihat bangunan-bangunan besarnya, hampir semua dihias atap gadang, yang aku baca di Ensiklopedia, dinamakan Atap Jorong.
Semakin memasuki wilayah kota, aku semakin banyak melihat bangunan-bangunan pemerintahan yang besar dan mengagumkan. Dari sisi jalan, hmm...boleh kubilang mirip-mirip dengan kota besar manapun, ramai, banyak angkot, dan masih banyak anak-anak berseragam sekolah.
"Banyak sekolah sore disini, Pak?"tanyaku pada sopir taxi dengan suara agak kencang, maklum, dia sedang menghidupkan tape mobil dengan volume yang lumayan tinggi.
"Banyak..banyak sekali. Kita baru saja melewati daerah persekolahan tadi."
Tidak berapa lama, taxi membelok ke halaman sebuah bangunan megah. Kita sudah sampai di hotel, rupanya. Aku tidak melihat spanduk besar kegiatan yang aku dan Brett hadiri di depan halaman hotel, aku jadi ragu.
"Benar disini Hotel Pangeran Beach?"
"Iya, benar," kata sopir taxi kami yang langsung keluar membukakan bagasi.
"Have we arrived yet?" Brett ikut ragu-ragu melihatku.
"Yes, I wish. Come on."
"Ini barang-barang Abang. Ini nomor handphone saya, saya akan menjemput Abang kalau pulang nanti. Kapan kira-kira akan pulang ke Jawa?"
Heh..aku terkejut. Apa ini taxi pulang pergi?
"Err...masih agak lama. Mungkin minggu depan,"jawabku sambil menerima nomor handphonenya.
"Baiklah, hubungi saya sewaktu Abang ingin dijemput. Nanti saya jemput kesini. Berapa nomor telepon Abang?"
"Ehmm..saya saja yang kontak Bapak. Terima kasih banyak," kataku mengulurkan uang seratus ribuan.
Rupanya si sopir sudah sedia kembalian buatku, dan aku nggak perlu berlama-lama menunggu sepuluh ribuku kembali.
"Sama-sama. Jangan lupa saya tunggu teleponnya."
Aku mengangguk. Kebiasaan sopir taxi yang jarang aku temui di kota-kota besar lainnya.
Dan akhirnya, dengan bantuan panitia, aku bisa segera check in di hotel. Lelah sekali rasanya. Aku ingin mandi dan tidur dulu, karena nanti malam masih ada agenda dengan panitia, dan kegiatan workshop yang sebenarnya baru besok pagi. Brett dan aku tinggal sekamar. Dia bukan pendengkur namun aku nggak tahan dengan rokok dan hobinya minum.
"It is hot here."
Brett benar, tanpa AC kamar, cuaca di kota Padang memang panas, wajar saja, karena setahuku garis khatulistiwa melewati daerah ini, tepatnya di Bukittinggi karena disana ada Monumen Equator. Ahh..semoga kami masih ada waktu dan kesempatan untuk ke Bukittinggi yang katanya indah banget.
"Wow..beach!!" Brett berseru di depan jendela
Pantai? Aku berlari ke arah jendela, dan Subhanallah..Brett nggak bohong, kami bisa melihat pantai dengan leluasanya. Ternyata Hotel ini terletak di depan pantai. Kulihat banyak sekali calon umbul-umbul dan walau hari sudah menjelang malam, aku masih melihat banyak orang masih berkutat di sekitar pantai. Sepertinya akan ada hajatan besar di tepian pantai, entah apa nama pantainya.
"What beach is it?"
Aku mengangkat bahu. "I'll check the map."
Brett berjalan ke arah balkon sementara aku mencari-cari peta, tepat disaat telepon kamar berdering yang ternyata dari panitia. Aku batal melanjutkan rencanaku mencari peta, karena aku harus bergegas mandi. Setengah jam lagi aku sudah harus berada di lobi, ada agenda ramah tamah dengan pihak panitia penyelenggara workshop.
19.07
Sehabis aku solat Maghrib (Padang berbeda waktu solat dengan Jawa, terpaut 20 menit) aku dan Brett segera turun ke lobi.
"Hey, look at there, ten o'clock. How sexy that girl!"
Mendengar kata-kata 'sexi' otakku langsung berpikir ke bentuk cewek muda yang memakai baju ketat dan serba terbuka. Aku sudah membayangkan keindahannya. Tapi aku tidak menemukan cewek berpakaian terbuka sama sekali.
"Where the sexy girl?" bisikku sambil berjingkat, beda tinggiku dan Brett terpaut hampir 20 cm. Dia kayak raksasa saja.
"That corner, the blonde one."
"Arrgghhh..!" aku mengomel. Ternyata cewek bule. Aku nggak suka cewek bule.
Brett menepuk pundakku, "Let's sit there, near her."
Yahh..demi dia lahh..aku mengalah saja. Workshop yang akan kami ikuti bakal jarang dihadiri cewek, jadi kemungkinan bertemu cewek sangatlah minim. Jika aku tidak menulis artikel berhadiah di koran terbesar di negara ini beberapa bulan yang lalu, belum tentu aku bersama bule norak bisa terdampar kesini. Semenarik apapun materi workshop, tiket bisa sampai ke Ibukota Sumbar ini lumayan menyedot ongkos. Kalau Brett mahh...dia emang hobi jalan-jalan, bayar berapapun, asal bisa ikut aku jalan-jalan..uffggghh..
"Bapak Aryan Adam?" seorang cewek (pribumi) menghampiriku, memanggil namaku.
"Iya..saya?"
"Boleh saya lihat ID card nya, Pak?"
"Ahh..jangan panggil saya 'pak' kan saya masih muda?"godaku.
Si cewek muda itu tersenyum. Aku menyerahkan KTP-ku.
"Ohh...asli Jogja, Pak?
"Yeah..muka saya kurang njawani ya?" isengku kumat
Cewek itu tersenyum, "Saya catat dulu ya?" dia menarik kursi di seberang kursiku, menulis identitasku, lalu mengembalikannya lagi."Terima kasih, Pak."
Cewek itu pergi. Yaahh..walau dibilang nggak cantik, tapi lumayan ramah juga. Kulirik di kursi sebelahku Brett masih asyik bercengkerama dengan cewek bule incerannya. Aku mengedarkan pandanganku, siapa tahu nemu cewek lain yang lebih cantik lainnya. But it's null..nothing..none..
"HOEKKK!"
Aku muntah-muntah di kamar mandi, karena tiba-tiba mencium bau minuman keras yang sangat memusingkan kepalaku yang baru separo keisi oksigen.
"$%!&%$#&$%!!" umpatku kesal.
Yang ingin kulempari umpatan masih pules tidur di ranjangnya. Nggak tau pulang jam berapa semalam.
"Buset, dah. Berapa botol dia tenggak yak. Mentang-mentang dia nggak ikut workshop pagi ini," omelku masih tertuju kepada si penidur.
Aku mencari-cari peraturan penyewa kamar hotel yang biasanya ditempelin di seputaran dinding dekat tempat tidur. Semoga saja kutemukan pasal yang melarang penyewa kamar membawa minuman beralkoholnya ke dalam kamar. Aku nggak tahu dia abis minum apa, yang jelas bukan seperti wine yang sering dia beli (aku sampai hafal..uffhhh)
Aku bertambah mengumpat ketika nggak menemukan pasal larangan itu, yang dilarang hanya pets. Kepalaku pusing banget, tapi aku harus segera berwudhu, solat lalu mandi karena sudah jam 6.00. Subuh di Padang memang sante banget..
"Take care, dude. I'll go down to the meeting room now,"pamitku pada Brett yang masih pules. Disamping pipinya aku tinggalin notes,
'Don't ever drunk in this room or pee in the bathroom after drunk anymore although it is while I am sleeping since I still can breathe your stinky mouth in the late morning! Use guests' rest rooms, ok!'
Aku mengaca sekali lagi, membenarkan letak rambutku yang baru saja kuperciki air. Hm...seems like Mr Nice Guy..(terpaksa memuji diri sendiri).
"Have a nice day, Adam," kataku pada diriku sendiri.
Di koridor, di lift, di seputaran lobby aku belum bertemu orang yang bergaya macam aku pagi ini, hanya office boy-girl yang lalu lalang sambil tersenyum ramah.
Dan hari ini agendanya masih seputaran asal mula kegiatan disini, begitu hasil scanning mataku membaca run down acara. Hari besar buatku baru dua hari lagi, dimana aku harus tampil mempertanggungjawabkan tulisan artikelku di koran nasional bulan lalu. Semoga saja hari pembuka ini membawa moodku ke arah yang lebih baik setelah pagi ini aku harus menghadapi kegilaan Brett dengan minumannya. Apa yang dilakukannya di kamar mandi semalaman. Apa dia juga muntah-muntah? Baunya menyengat banget. Aku nggak yakin, room service mau membersihkan kamar mandi kami, atau malah meng-surcharge kami karena baunya? Ufffhhh...aku ogah banget mikirin yang bakal terjadi di kamar 308.
Tapi, rupanya Tuhan masih berbaik hati padaku karena bisa-bisanya mataku menemukan sosok manis di sela-sela kejemuanku mengikuti si pembicara. She's so sweet...rambutnya panjang, dikuncir kuda (bahasa sopannya apa sih!) wajahnya fresh banget. Tapi aku mau jaim, jaga image, nggak mau keliatan norak memperhatikannya, lagian kan belum kenal. Pikiranku tentang cewek itu kok kebawa terus yah...bahkan sampai malam harinya, saat aku dan Brett memutuskan menonton pertunjukan di pantai yang rupanya sedang ada perayaan entah apa. Ada banyak sekali perahu-perahu naga tertata rapi di tepian pantai, sepertinya untuk acara besok pagi.
"Can u drive a dragon boat?" aku asyik meneliti ukiran di badan sebuah perahu naga berwarna merah, warna kesukaanku. Aku sebenarnya nggak tahu maksud ukiran itu. Aku hanya tau, beberapa bulan lalu tim perahu naga kota Padang menang lomba di China. Cool...
Brett mengambil sebatang rokok dari kantongnya, lalu menyalakan sebatang rokoknya.
"Tina told me this morning that she wants to accompany me to Bukittinggi tomorrow."
"Who's Tina?" walau aku asyik mengamati ukiran perahu naga, aku masih mengacuhkan Brett.
"The blonde. She will absent by tomorrow."
Aku mengumpat, "@#&^%&#@%!" karena aku nggak bisa ikut jalan-jalan ke Bukittinggi.
Saking keselnya, aku sampai nggak menyadari ada paku menancap di ujung tepian kapal, dan aku memukulkan telapak tanganku ke paku itu.
"Ouchh!" teriakku.
Tanganku seperti kena tusuk kayu perahu. Hm..semoga bukan petaka buruk (idih...hari gini masih saja percaya tahayul).
"Be careful, dude!" Brett masih tegak berdiri di tempat semula sambil mengepulkan asap rokoknya alih-alih membantuku mengobati lukaku.
Di arah jalan raya, aku melihat bayang manusia berambut panjang, menaiki sepeda di dekat tembok batas pantai. Karena aku berada di sisi yang gelap dan dia membelakangi cahaya dari hotel yang gemerlapan, raut wajahnya nggak kelihatan. Rambutnya melambai-lambai. Semoga yang aku lihat ini beneran manusia, dan cewek...
Ya Tuhan, sebegitu pengennya aku punya cewek, dan sepertinya cewek Padang boljug.
(to be continued later, again)
love. rere. arleynova
Labels: story