di BIM Aku Menunggumu (part 3)
(yeahh...akhirnya Adam mulai kenalan ama cewek! nikmati saja petualangan Adam di lanjutan cerita ini. still, critics are welcome)
Plakk...plakkk....!! gemuruh tepuk tangan membangunkanku dari tidurku di tengah-tengah rangkaian seminar terakhir hari ini. yeah, aku lelah banget. tadi pagi aku harus menjadi pembicara seminar, dan sekarang masih jadi peserta untuk pembicara selanjutnya.
"Selamat Sore, Pak Adam. Maaf mengganggu sebentar, Pak."
weits...seorang panitia cowok menghampiriku, aku mencurigainya akan menegurku karena ketiduran di tengah-tengah seminar.
"Ya?"
"Ada fax untuk Bapak di meja panitia."
Aku mencoba menyadarkan seluruh otakku dari ke-idle-annya. Fax?
"Dari mana, ya? Bisa tolong diambilkan saja?"
"Mohon maaf, Pak, harus diambil sendiri oleh ybs, karena Anda harus menandatangani surat terimanya."
Well, urusan fax aja kok pake birokrasi segala.
"Baiklah, dimana mejanya?" daripada protes berkepanjangan, aku bangun dari tempat dudukku, meninggalkan tas dan dokumen di kursiku menuju meja panitia seperti yang ditunjuknya.
"Terima kasih." aku membaca header fax-nya. PT apaan niy ya. Aku nggak kenal. Bahkan nama yang bertanda tangan di lembar yang di-fax-kan, aku juga nggak kenal. Yonas..hmmm..siapa lagi...lalu aku baca isi fax-nya. Haha..ternyata 'penggemar'ku. Isinya mengagumi isi seminarku barusan, hmmm..aku lupa kalau seminar ini diliput salah satu radio terpopuler di Padang. Pantas saja, karena melihat lokasi PT-nya Pak Yonas ini berada di daerah Pariaman, di luar kota Padang.
"Ups..."
karena tanganku masih lemas - sisa ketiduran - fax ku lepas, meluncur kebawah. Yap. Seseorang (kupastikan tanpa sengaja) menginjaknya. Posisinya memunggungiku, jadi gimana caranya aku mengambil fax yang terinjak itu? Hanya dengan mencoleknya, aku rasa.
"Sorry, hmmm."
Dia menoleh, cewek (bisa kulihat rambut panjangnya yang dikuncir dari belakang sih). "Ya...oh..Pak Adam.."
"Ahh..."
Matanya yang hitam bening menatapku, sedikit membelakak, mungkin bingung dengan sikapku. Ahh..aku malu...ditatap cewek kayak gitu.
"Mmmmm....anu...sayaa...fax.."
Duh Gusti...ada apa denganku! Kok aku jadi grogi setengah mati gini? Jangankan cewek di depanku, aku sendiri bingung dengan apa yang akan kuucapkan.
"Fax?"
"Mmm...fax saya..terinjak."
"Fax terinjak? Dimana? Sudah lapor panitia, nanti biar diambilkan?"
bukannya dia melihat ke bawah kakinya, malah celingukan mencari anak buahnya.
"Di kaki Anda."
Matanya membelalak lagi, lebih besar dari semula. Lalu spontan melihat ke bawah sepatunya. Ada kertas terbalik di bawahnya. Dia bergegas mengambilnya, dan membersihkannya untukku.
"Eh, nggak usah. Nggak papa, bukan salah Anda."
"Maaf, maaf sekali Pak Adam. Saya nggak sengaja. Aduh..gimana niy, ada bekas sepatu saya, padahal ini penting ya Pak. Maaf..." dia masih berkutat membersihkan tapak sepatunya di fax dari Pak Yonas untukku.
Dia mengulurkan kertas fax ke tanganku, masih ada sedikit bekas tapak sepatunya. Tapi..nggak papa lah...namanya juga insiden.
"Thanks," ujarku.
Aku memutar otak, masa cuma 'thanks' doank? Ayo, Dam..mikir..mikir..cari kata-kata lain selain terimakasih!! Dug, dug, dug, dug...jantungku kok aneh rasanya gini yaa...
"Hmm..maaf, nama Anda siapa? Anda yang ketua panitia acara ini, kan?"
Duh Gusti..aku melakukan kesalahan bodoh lagi. Bukannya aku sudah tahu kalau namanya AUDI. Hampir di semua berkas, ada namanya, dan bahkan dia sudah memperkenalkan diri di depan publik setiap pembukaan acara. Aku hanya berlagak sok playboy..ikut-ikutan Brett. Tapi dia nggak kaget, justru tersenyum, "Audi."
Wizzz...tiba-tiba kok jantungku serasa berdegup kencang banget, ya?
"Hmm..sendirian?"
Semoga dia nggak merasa aku sedang menggombalinya (padahal iya banget). Semoga dia nggak melihat mukaku yang merah-merah jambu. Seumur-umur, aku nggak pernah nggombalin cewek, tauk! Hebatnya lagi, aku malah dikira gay, gara-gara aku terlalu deket ama cowok daripada ama cewek.
"Iya, Pak. Saya sedang memantau acara ini saja. Saya muter-muter, kok, Pak."
Hmmm..muter-muter, bahasanya kok Jawa banget ya? Apa dia bukan orang lokal sini?
"Asli Padang?"
Ups...kenapa hal yang sedang kupikirkan kutanyakan juga. Aihhh..udah keringat dingin gini. Coba kalo nggak termakan provokasi Brett tadi malam, kalau dia pengen pulang dari Padang aku udah punya cewek (my first girl), wiihh..nggak bakal aku 'serabutan' kayak gini.
"Ahh..enggak. Saya dari Bandung. Panitia acara ini tidak harus dari Padang, kok. Ini kan acara nasional."
"Ohh..Bandung.."
"Iya, kenapa? Ada sesuatu dengan Bandung?"
Aku menggaruk hidungku yang mulai gatal, "Saya cuma tahu kalau cewek Bandung cantik-cantik.."
Good Adam!! pujiku dalam hati. Rayuan pertama sudah ditembakkan. Tinggal menunggu respon. Tapi lantaran aku bukan golongan perayu, aku nggak yakin apa kata-kata seperti itu 'wajib' dilontarkan kepada cewek di awal perkenalan. Dan respon Audi hanya tersenyum..senyum biasa tapi aku merasa ada yang 'menggoda' dari senyum itu. Ahh..semoga aku nggak lagi mabok. Sesaat handphone di genggamannya berbunyi.
"Maaf, Pak Adam. Saya terima telepon dulu, ya?"
"Silakan."
Aku mengamati ruangan seminar. Sebenernya aku nggak terlalu interest mengikuti agenda hari ini, karena memang aku tidak terlalu menyukai topiknya. Yang jelas jauh dari bidangku, karena temanya lebih cenderung ke karya ilmiah. Selain itu, aku udah punya 'agenda' lain yang lebih menarik...tentu saja, Audi.
"Pak Adam, saya harus pamit dulu. Ada yang harus saya selesaikan di belakang. Maaf sekali, ya.."
"Baiklah. Mungkin nanti bisa kita lanjutkan?" dengan (sok) tegar aku mempersilakan dia menyelesaikan urusannya.
"Insya Allah, kalau saya masih ada waktu ya, maklum Pak..bagian muter-muter."
"Yap, saya tahu. Silakan."
"Dan, sekali lagi saya minta maaf untuk kejadian fax tadi."
"Ah..sudahlah, itu juga salah saya, kok."
Dia berlalu meninggalkan senyumnya, tepat disaat ada tangan lain menepuk pundakku dari belakang.
"Adam!"
Aku menoleh spontan, "Budi!!Gusti Allah, kamu ada disini juga, Bud?!"
Budi ngakak kenceng banget. Orang ini emang nggak pernah sopan kalau ngakak.
"Khusus hadir buatmu, sobat. Aku baca brosur seminarmu, kebetulan aku masih di seputaran sini."
"Kamu..di Padang sekarang?"
"Lagi dinas aja. Brosurnya ada di kampus tempatku kerja. Aku iseng daftar aja, dan two thumbs up deh, sobat. Kerennnn.."
"Lah..kerjaanmu gimana?"
"Udah ada timku yang lain, kok. Tenang aja, yang jelas hari ini khusus buat nemuin kamu. Gak nyangka, udah punya nama besar sekarang, Aryan Adam!"
Aku bener-bener nggak pernah nyangka, bisa ketemu sahabat lamaku disini, di kota yang sangat jauh dari tempat kami berkembang bersama dulu.
"Udah beristri?"
Sial...apa mukaku udah tampak tua?
"Belum..masih single.."
"Pacar?"
"Belum..."
"Satupun?"
"Iya.."
"Sejak dulu??"
"Iya.."
Sial..obrolannya menyudutkanku banget yak. Apalagi setelah itu, Budi ngakak sekenceng-kencengnya lagi.
"Anakku udah dua, bro. Yang kecil baru aja lahir bulan lalu, terus aku tinggal dinas dulu kesini."
"Waw..."
"Itu tadi targetmu, ya?"Budi berbisik di telingaku, geli banget rasanya.
"Audi?"
"Yah..whatever her name, lah. Tapi bukankah terlalu 'biasa' untuk seorang Adam yang super ganteng gini?"
"Audi, biasa? Ahh..aku bingung dengan kategori cantik-manis-standar-jeleknya cewek, Bud. Suer, aku nggak ngerti."
Budi menyeretku duduk di dua bangku yang kosong di luar ruangan.
"Sayang sekali peminat acara ini cowok, susah nyari cewek. Coba sekali-sekali kamu maen ke acara fashion show. Disana lebih gampang mengkategorikan cewek golongan cantik-tidak cantik dan standar angka 6 lahh..."
Aku pusing. Sudah kelamaan-kah aku berkutat dengan coding sehingga aku nggak ngeh soal standar kecantikan cewek? Di halaman editor yang menjadi keseharianku, aku hanya melihat huruf dan tanda baca, yang nantinya bisa berubah sekejap menjadi halaman-halaman dengan gambar-gambar bagus, atau halaman-halaman ajaib yang bisa menampilkan macam-macam fungsi. Jadi di pengertianku, dari rangkaian yang sederhana, bisa berubah menjadi rangkaian yang penuh fungsi dan warna. Pendapat itu kusamakan dengan cewek, walau cewek itu sederhana, pasti dia bisa 'berubah' menjadi cewek yang super...perhaps..
------
Aku berdiri di tepian balkon kamarku (makasih buat office boy yang sudah membereskan bau minuman Brett). Hari sudah terlalu malam. Aku juga sudah sangat kelelahan, apalagi tadi sempat jalan-jalan ke pantai bareng Budi. Brett hari ini masih di Bukittinggi, jadi masih menginap disana entah sampai kapan, terserah dia. Toh tujuan dia hanya jalan-jalan sambil mengembangkan hobi fotografinya tanpa terkekang aktivitas resmi kayak aku. Tanpa kusengaja, aku melihat seorang cewek berambut panjang tergerai bersepeda di tepian pantai....seperti kemarin malam...
Menurut catatan di otakku, kemaren dia seliweran pukul 11 malam, sekarang lebih cepat 20 menit. Sepertinya sebuah kebiasaan yang aneh, remember, ini Padang! boleh dibilang kota 'santri'. Jam 9 malam saja jalan-jalan raya sudah mulai sepi, jarang-jarang cewek keluyuran lebih dari jam 10 malam, kemungkinannya kecuali pendatang yang 'belum tau aturan maen di Padang'. Tunggu saja, besok aku akan menjalankan rencanaku mengungkap rasa penasaranku, aku sangat penasaran, karena sepertinya aku kenal postur dan gerak tubuh cewek itu, hanya aku heran aja, ngapain tiap malam keluyuran naek sepeda?
Plakk...plakkk....!! gemuruh tepuk tangan membangunkanku dari tidurku di tengah-tengah rangkaian seminar terakhir hari ini. yeah, aku lelah banget. tadi pagi aku harus menjadi pembicara seminar, dan sekarang masih jadi peserta untuk pembicara selanjutnya.
"Selamat Sore, Pak Adam. Maaf mengganggu sebentar, Pak."
weits...seorang panitia cowok menghampiriku, aku mencurigainya akan menegurku karena ketiduran di tengah-tengah seminar.
"Ya?"
"Ada fax untuk Bapak di meja panitia."
Aku mencoba menyadarkan seluruh otakku dari ke-idle-annya. Fax?
"Dari mana, ya? Bisa tolong diambilkan saja?"
"Mohon maaf, Pak, harus diambil sendiri oleh ybs, karena Anda harus menandatangani surat terimanya."
Well, urusan fax aja kok pake birokrasi segala.
"Baiklah, dimana mejanya?" daripada protes berkepanjangan, aku bangun dari tempat dudukku, meninggalkan tas dan dokumen di kursiku menuju meja panitia seperti yang ditunjuknya.
"Terima kasih." aku membaca header fax-nya. PT apaan niy ya. Aku nggak kenal. Bahkan nama yang bertanda tangan di lembar yang di-fax-kan, aku juga nggak kenal. Yonas..hmmm..siapa lagi...lalu aku baca isi fax-nya. Haha..ternyata 'penggemar'ku. Isinya mengagumi isi seminarku barusan, hmmm..aku lupa kalau seminar ini diliput salah satu radio terpopuler di Padang. Pantas saja, karena melihat lokasi PT-nya Pak Yonas ini berada di daerah Pariaman, di luar kota Padang.
"Ups..."
karena tanganku masih lemas - sisa ketiduran - fax ku lepas, meluncur kebawah. Yap. Seseorang (kupastikan tanpa sengaja) menginjaknya. Posisinya memunggungiku, jadi gimana caranya aku mengambil fax yang terinjak itu? Hanya dengan mencoleknya, aku rasa.
"Sorry, hmmm."
Dia menoleh, cewek (bisa kulihat rambut panjangnya yang dikuncir dari belakang sih). "Ya...oh..Pak Adam.."
"Ahh..."
Matanya yang hitam bening menatapku, sedikit membelakak, mungkin bingung dengan sikapku. Ahh..aku malu...ditatap cewek kayak gitu.
"Mmmmm....anu...sayaa...fax.."
Duh Gusti...ada apa denganku! Kok aku jadi grogi setengah mati gini? Jangankan cewek di depanku, aku sendiri bingung dengan apa yang akan kuucapkan.
"Fax?"
"Mmm...fax saya..terinjak."
"Fax terinjak? Dimana? Sudah lapor panitia, nanti biar diambilkan?"
bukannya dia melihat ke bawah kakinya, malah celingukan mencari anak buahnya.
"Di kaki Anda."
Matanya membelalak lagi, lebih besar dari semula. Lalu spontan melihat ke bawah sepatunya. Ada kertas terbalik di bawahnya. Dia bergegas mengambilnya, dan membersihkannya untukku.
"Eh, nggak usah. Nggak papa, bukan salah Anda."
"Maaf, maaf sekali Pak Adam. Saya nggak sengaja. Aduh..gimana niy, ada bekas sepatu saya, padahal ini penting ya Pak. Maaf..." dia masih berkutat membersihkan tapak sepatunya di fax dari Pak Yonas untukku.
Dia mengulurkan kertas fax ke tanganku, masih ada sedikit bekas tapak sepatunya. Tapi..nggak papa lah...namanya juga insiden.
"Thanks," ujarku.
Aku memutar otak, masa cuma 'thanks' doank? Ayo, Dam..mikir..mikir..cari kata-kata lain selain terimakasih!! Dug, dug, dug, dug...jantungku kok aneh rasanya gini yaa...
"Hmm..maaf, nama Anda siapa? Anda yang ketua panitia acara ini, kan?"
Duh Gusti..aku melakukan kesalahan bodoh lagi. Bukannya aku sudah tahu kalau namanya AUDI. Hampir di semua berkas, ada namanya, dan bahkan dia sudah memperkenalkan diri di depan publik setiap pembukaan acara. Aku hanya berlagak sok playboy..ikut-ikutan Brett. Tapi dia nggak kaget, justru tersenyum, "Audi."
Wizzz...tiba-tiba kok jantungku serasa berdegup kencang banget, ya?
"Hmm..sendirian?"
Semoga dia nggak merasa aku sedang menggombalinya (padahal iya banget). Semoga dia nggak melihat mukaku yang merah-merah jambu. Seumur-umur, aku nggak pernah nggombalin cewek, tauk! Hebatnya lagi, aku malah dikira gay, gara-gara aku terlalu deket ama cowok daripada ama cewek.
"Iya, Pak. Saya sedang memantau acara ini saja. Saya muter-muter, kok, Pak."
Hmmm..muter-muter, bahasanya kok Jawa banget ya? Apa dia bukan orang lokal sini?
"Asli Padang?"
Ups...kenapa hal yang sedang kupikirkan kutanyakan juga. Aihhh..udah keringat dingin gini. Coba kalo nggak termakan provokasi Brett tadi malam, kalau dia pengen pulang dari Padang aku udah punya cewek (my first girl), wiihh..nggak bakal aku 'serabutan' kayak gini.
"Ahh..enggak. Saya dari Bandung. Panitia acara ini tidak harus dari Padang, kok. Ini kan acara nasional."
"Ohh..Bandung.."
"Iya, kenapa? Ada sesuatu dengan Bandung?"
Aku menggaruk hidungku yang mulai gatal, "Saya cuma tahu kalau cewek Bandung cantik-cantik.."
Good Adam!! pujiku dalam hati. Rayuan pertama sudah ditembakkan. Tinggal menunggu respon. Tapi lantaran aku bukan golongan perayu, aku nggak yakin apa kata-kata seperti itu 'wajib' dilontarkan kepada cewek di awal perkenalan. Dan respon Audi hanya tersenyum..senyum biasa tapi aku merasa ada yang 'menggoda' dari senyum itu. Ahh..semoga aku nggak lagi mabok. Sesaat handphone di genggamannya berbunyi.
"Maaf, Pak Adam. Saya terima telepon dulu, ya?"
"Silakan."
Aku mengamati ruangan seminar. Sebenernya aku nggak terlalu interest mengikuti agenda hari ini, karena memang aku tidak terlalu menyukai topiknya. Yang jelas jauh dari bidangku, karena temanya lebih cenderung ke karya ilmiah. Selain itu, aku udah punya 'agenda' lain yang lebih menarik...tentu saja, Audi.
"Pak Adam, saya harus pamit dulu. Ada yang harus saya selesaikan di belakang. Maaf sekali, ya.."
"Baiklah. Mungkin nanti bisa kita lanjutkan?" dengan (sok) tegar aku mempersilakan dia menyelesaikan urusannya.
"Insya Allah, kalau saya masih ada waktu ya, maklum Pak..bagian muter-muter."
"Yap, saya tahu. Silakan."
"Dan, sekali lagi saya minta maaf untuk kejadian fax tadi."
"Ah..sudahlah, itu juga salah saya, kok."
Dia berlalu meninggalkan senyumnya, tepat disaat ada tangan lain menepuk pundakku dari belakang.
"Adam!"
Aku menoleh spontan, "Budi!!Gusti Allah, kamu ada disini juga, Bud?!"
Budi ngakak kenceng banget. Orang ini emang nggak pernah sopan kalau ngakak.
"Khusus hadir buatmu, sobat. Aku baca brosur seminarmu, kebetulan aku masih di seputaran sini."
"Kamu..di Padang sekarang?"
"Lagi dinas aja. Brosurnya ada di kampus tempatku kerja. Aku iseng daftar aja, dan two thumbs up deh, sobat. Kerennnn.."
"Lah..kerjaanmu gimana?"
"Udah ada timku yang lain, kok. Tenang aja, yang jelas hari ini khusus buat nemuin kamu. Gak nyangka, udah punya nama besar sekarang, Aryan Adam!"
Aku bener-bener nggak pernah nyangka, bisa ketemu sahabat lamaku disini, di kota yang sangat jauh dari tempat kami berkembang bersama dulu.
"Udah beristri?"
Sial...apa mukaku udah tampak tua?
"Belum..masih single.."
"Pacar?"
"Belum..."
"Satupun?"
"Iya.."
"Sejak dulu??"
"Iya.."
Sial..obrolannya menyudutkanku banget yak. Apalagi setelah itu, Budi ngakak sekenceng-kencengnya lagi.
"Anakku udah dua, bro. Yang kecil baru aja lahir bulan lalu, terus aku tinggal dinas dulu kesini."
"Waw..."
"Itu tadi targetmu, ya?"Budi berbisik di telingaku, geli banget rasanya.
"Audi?"
"Yah..whatever her name, lah. Tapi bukankah terlalu 'biasa' untuk seorang Adam yang super ganteng gini?"
"Audi, biasa? Ahh..aku bingung dengan kategori cantik-manis-standar-jeleknya cewek, Bud. Suer, aku nggak ngerti."
Budi menyeretku duduk di dua bangku yang kosong di luar ruangan.
"Sayang sekali peminat acara ini cowok, susah nyari cewek. Coba sekali-sekali kamu maen ke acara fashion show. Disana lebih gampang mengkategorikan cewek golongan cantik-tidak cantik dan standar angka 6 lahh..."
Aku pusing. Sudah kelamaan-kah aku berkutat dengan coding sehingga aku nggak ngeh soal standar kecantikan cewek? Di halaman editor yang menjadi keseharianku, aku hanya melihat huruf dan tanda baca, yang nantinya bisa berubah sekejap menjadi halaman-halaman dengan gambar-gambar bagus, atau halaman-halaman ajaib yang bisa menampilkan macam-macam fungsi. Jadi di pengertianku, dari rangkaian yang sederhana, bisa berubah menjadi rangkaian yang penuh fungsi dan warna. Pendapat itu kusamakan dengan cewek, walau cewek itu sederhana, pasti dia bisa 'berubah' menjadi cewek yang super...perhaps..
------
Aku berdiri di tepian balkon kamarku (makasih buat office boy yang sudah membereskan bau minuman Brett). Hari sudah terlalu malam. Aku juga sudah sangat kelelahan, apalagi tadi sempat jalan-jalan ke pantai bareng Budi. Brett hari ini masih di Bukittinggi, jadi masih menginap disana entah sampai kapan, terserah dia. Toh tujuan dia hanya jalan-jalan sambil mengembangkan hobi fotografinya tanpa terkekang aktivitas resmi kayak aku. Tanpa kusengaja, aku melihat seorang cewek berambut panjang tergerai bersepeda di tepian pantai....seperti kemarin malam...
Menurut catatan di otakku, kemaren dia seliweran pukul 11 malam, sekarang lebih cepat 20 menit. Sepertinya sebuah kebiasaan yang aneh, remember, ini Padang! boleh dibilang kota 'santri'. Jam 9 malam saja jalan-jalan raya sudah mulai sepi, jarang-jarang cewek keluyuran lebih dari jam 10 malam, kemungkinannya kecuali pendatang yang 'belum tau aturan maen di Padang'. Tunggu saja, besok aku akan menjalankan rencanaku mengungkap rasa penasaranku, aku sangat penasaran, karena sepertinya aku kenal postur dan gerak tubuh cewek itu, hanya aku heran aja, ngapain tiap malam keluyuran naek sepeda?