sweetie blue

come with me giving the nice smile to everyone that needs smile and happiness for yesterday, today, tomorrow and ever after...

Wednesday, July 23, 2008

choco truffle




What Your Taste in Chocolate Says About You



You are sophisticated, modern, and high class.

Your taste is refined, but you are not picky.

You are often the first to try something new.



You are friendly, witty, and likable.

You charm is overwhelming. People are enchanted by you.

You have a comeback for anything. Because of this, you seem flippant at times.



You love working, making deals, and succeeding. You like to be a part of the action.

You feel lost when you're bored. There's little more fulfilling that your career.

Friday, May 16, 2008

hai

udah lama ndak post di blog tercinta sayah ini...

apa kabar smuah?

sengaja saya ndak post di blog ini lantaran saya ndak post lagi sambungan cerbung saya...cuma tersimpan di draft terus..

happy reading yah!

Saturday, November 17, 2007

di BIM Aku Menunggumu (part 3)

(yeahh...akhirnya Adam mulai kenalan ama cewek! nikmati saja petualangan Adam di lanjutan cerita ini. still, critics are welcome)

Plakk...plakkk....!! gemuruh tepuk tangan membangunkanku dari tidurku di tengah-tengah rangkaian seminar terakhir hari ini. yeah, aku lelah banget. tadi pagi aku harus menjadi pembicara seminar, dan sekarang masih jadi peserta untuk pembicara selanjutnya.


"Selamat Sore, Pak Adam. Maaf mengganggu sebentar, Pak."
weits...seorang panitia cowok menghampiriku, aku mencurigainya akan menegurku karena ketiduran di tengah-tengah seminar.
"Ya?"
"Ada fax untuk Bapak di meja panitia."
Aku mencoba menyadarkan seluruh otakku dari ke-idle-annya. Fax?
"Dari mana, ya? Bisa tolong diambilkan saja?"
"Mohon maaf, Pak, harus diambil sendiri oleh ybs, karena Anda harus menandatangani surat terimanya."
Well, urusan fax aja kok pake birokrasi segala.
"Baiklah, dimana mejanya?" daripada protes berkepanjangan, aku bangun dari tempat dudukku, meninggalkan tas dan dokumen di kursiku menuju meja panitia seperti yang ditunjuknya.
"Terima kasih." aku membaca header fax-nya. PT apaan niy ya. Aku nggak kenal. Bahkan nama yang bertanda tangan di lembar yang di-fax-kan, aku juga nggak kenal. Yonas..hmmm..siapa lagi...lalu aku baca isi fax-nya. Haha..ternyata 'penggemar'ku. Isinya mengagumi isi seminarku barusan, hmmm..aku lupa kalau seminar ini diliput salah satu radio terpopuler di Padang. Pantas saja, karena melihat lokasi PT-nya Pak Yonas ini berada di daerah Pariaman, di luar kota Padang.

"Ups..."
karena tanganku masih lemas - sisa ketiduran - fax ku lepas, meluncur kebawah. Yap. Seseorang (kupastikan tanpa sengaja) menginjaknya. Posisinya memunggungiku, jadi gimana caranya aku mengambil fax yang terinjak itu? Hanya dengan mencoleknya, aku rasa.
"Sorry, hmmm."
Dia menoleh, cewek (bisa kulihat rambut panjangnya yang dikuncir dari belakang sih). "Ya...oh..Pak Adam.."
"Ahh..."
Matanya yang hitam bening menatapku, sedikit membelakak, mungkin bingung dengan sikapku. Ahh..aku malu...ditatap cewek kayak gitu.
"Mmmmm....anu...sayaa...fax.."
Duh Gusti...ada apa denganku! Kok aku jadi grogi setengah mati gini? Jangankan cewek di depanku, aku sendiri bingung dengan apa yang akan kuucapkan.
"Fax?"
"Mmm...fax saya..terinjak."
"Fax terinjak? Dimana? Sudah lapor panitia, nanti biar diambilkan?"
bukannya dia melihat ke bawah kakinya, malah celingukan mencari anak buahnya.
"Di kaki Anda."
Matanya membelalak lagi, lebih besar dari semula. Lalu spontan melihat ke bawah sepatunya. Ada kertas terbalik di bawahnya. Dia bergegas mengambilnya, dan membersihkannya untukku.
"Eh, nggak usah. Nggak papa, bukan salah Anda."
"Maaf, maaf sekali Pak Adam. Saya nggak sengaja. Aduh..gimana niy, ada bekas sepatu saya, padahal ini penting ya Pak. Maaf..." dia masih berkutat membersihkan tapak sepatunya di fax dari Pak Yonas untukku.
Dia mengulurkan kertas fax ke tanganku, masih ada sedikit bekas tapak sepatunya. Tapi..nggak papa lah...namanya juga insiden.
"Thanks," ujarku.
Aku memutar otak, masa cuma 'thanks' doank? Ayo, Dam..mikir..mikir..cari kata-kata lain selain terimakasih!! Dug, dug, dug, dug...jantungku kok aneh rasanya gini yaa...

"Hmm..maaf, nama Anda siapa? Anda yang ketua panitia acara ini, kan?"
Duh Gusti..aku melakukan kesalahan bodoh lagi. Bukannya aku sudah tahu kalau namanya AUDI. Hampir di semua berkas, ada namanya, dan bahkan dia sudah memperkenalkan diri di depan publik setiap pembukaan acara. Aku hanya berlagak sok playboy..ikut-ikutan Brett. Tapi dia nggak kaget, justru tersenyum, "Audi."
Wizzz...tiba-tiba kok jantungku serasa berdegup kencang banget, ya?
"Hmm..sendirian?"
Semoga dia nggak merasa aku sedang menggombalinya (padahal iya banget). Semoga dia nggak melihat mukaku yang merah-merah jambu. Seumur-umur, aku nggak pernah nggombalin cewek, tauk! Hebatnya lagi, aku malah dikira gay, gara-gara aku terlalu deket ama cowok daripada ama cewek.
"Iya, Pak. Saya sedang memantau acara ini saja. Saya muter-muter, kok, Pak."
Hmmm..muter-muter, bahasanya kok Jawa banget ya? Apa dia bukan orang lokal sini?
"Asli Padang?"
Ups...kenapa hal yang sedang kupikirkan kutanyakan juga. Aihhh..udah keringat dingin gini. Coba kalo nggak termakan provokasi Brett tadi malam, kalau dia pengen pulang dari Padang aku udah punya cewek (my first girl), wiihh..nggak bakal aku 'serabutan' kayak gini.
"Ahh..enggak. Saya dari Bandung. Panitia acara ini tidak harus dari Padang, kok. Ini kan acara nasional."
"Ohh..Bandung.."
"Iya, kenapa? Ada sesuatu dengan Bandung?"
Aku menggaruk hidungku yang mulai gatal, "Saya cuma tahu kalau cewek Bandung cantik-cantik.."
Good Adam!! pujiku dalam hati. Rayuan pertama sudah ditembakkan. Tinggal menunggu respon. Tapi lantaran aku bukan golongan perayu, aku nggak yakin apa kata-kata seperti itu 'wajib' dilontarkan kepada cewek di awal perkenalan. Dan respon Audi hanya tersenyum..senyum biasa tapi aku merasa ada yang 'menggoda' dari senyum itu. Ahh..semoga aku nggak lagi mabok. Sesaat handphone di genggamannya berbunyi.
"Maaf, Pak Adam. Saya terima telepon dulu, ya?"
"Silakan."
Aku mengamati ruangan seminar. Sebenernya aku nggak terlalu interest mengikuti agenda hari ini, karena memang aku tidak terlalu menyukai topiknya. Yang jelas jauh dari bidangku, karena temanya lebih cenderung ke karya ilmiah. Selain itu, aku udah punya 'agenda' lain yang lebih menarik...tentu saja, Audi.
"Pak Adam, saya harus pamit dulu. Ada yang harus saya selesaikan di belakang. Maaf sekali, ya.."
"Baiklah. Mungkin nanti bisa kita lanjutkan?" dengan (sok) tegar aku mempersilakan dia menyelesaikan urusannya.
"Insya Allah, kalau saya masih ada waktu ya, maklum Pak..bagian muter-muter."
"Yap, saya tahu. Silakan."
"Dan, sekali lagi saya minta maaf untuk kejadian fax tadi."
"Ah..sudahlah, itu juga salah saya, kok."
Dia berlalu meninggalkan senyumnya, tepat disaat ada tangan lain menepuk pundakku dari belakang.
"Adam!"
Aku menoleh spontan, "Budi!!Gusti Allah, kamu ada disini juga, Bud?!"
Budi ngakak kenceng banget. Orang ini emang nggak pernah sopan kalau ngakak.
"Khusus hadir buatmu, sobat. Aku baca brosur seminarmu, kebetulan aku masih di seputaran sini."
"Kamu..di Padang sekarang?"
"Lagi dinas aja. Brosurnya ada di kampus tempatku kerja. Aku iseng daftar aja, dan two thumbs up deh, sobat. Kerennnn.."
"Lah..kerjaanmu gimana?"
"Udah ada timku yang lain, kok. Tenang aja, yang jelas hari ini khusus buat nemuin kamu. Gak nyangka, udah punya nama besar sekarang, Aryan Adam!"
Aku bener-bener nggak pernah nyangka, bisa ketemu sahabat lamaku disini, di kota yang sangat jauh dari tempat kami berkembang bersama dulu.
"Udah beristri?"
Sial...apa mukaku udah tampak tua?
"Belum..masih single.."
"Pacar?"
"Belum..."
"Satupun?"
"Iya.."
"Sejak dulu??"
"Iya.."
Sial..obrolannya menyudutkanku banget yak. Apalagi setelah itu, Budi ngakak sekenceng-kencengnya lagi.
"Anakku udah dua, bro. Yang kecil baru aja lahir bulan lalu, terus aku tinggal dinas dulu kesini."
"Waw..."
"Itu tadi targetmu, ya?"Budi berbisik di telingaku, geli banget rasanya.
"Audi?"
"Yah..whatever her name, lah. Tapi bukankah terlalu 'biasa' untuk seorang Adam yang super ganteng gini?"
"Audi, biasa? Ahh..aku bingung dengan kategori cantik-manis-standar-jeleknya cewek, Bud. Suer, aku nggak ngerti."
Budi menyeretku duduk di dua bangku yang kosong di luar ruangan.
"Sayang sekali peminat acara ini cowok, susah nyari cewek. Coba sekali-sekali kamu maen ke acara fashion show. Disana lebih gampang mengkategorikan cewek golongan cantik-tidak cantik dan standar angka 6 lahh..."
Aku pusing. Sudah kelamaan-kah aku berkutat dengan coding sehingga aku nggak ngeh soal standar kecantikan cewek? Di halaman editor yang menjadi keseharianku, aku hanya melihat huruf dan tanda baca, yang nantinya bisa berubah sekejap menjadi halaman-halaman dengan gambar-gambar bagus, atau halaman-halaman ajaib yang bisa menampilkan macam-macam fungsi. Jadi di pengertianku, dari rangkaian yang sederhana, bisa berubah menjadi rangkaian yang penuh fungsi dan warna. Pendapat itu kusamakan dengan cewek, walau cewek itu sederhana, pasti dia bisa 'berubah' menjadi cewek yang super...perhaps..

------
Aku berdiri di tepian balkon kamarku (makasih buat office boy yang sudah membereskan bau minuman Brett). Hari sudah terlalu malam. Aku juga sudah sangat kelelahan, apalagi tadi sempat jalan-jalan ke pantai bareng Budi. Brett hari ini masih di Bukittinggi, jadi masih menginap disana entah sampai kapan, terserah dia. Toh tujuan dia hanya jalan-jalan sambil mengembangkan hobi fotografinya tanpa terkekang aktivitas resmi kayak aku. Tanpa kusengaja, aku melihat seorang cewek berambut panjang tergerai bersepeda di tepian pantai....seperti kemarin malam...

M
enurut catatan di otakku, kemaren dia seliweran pukul 11 malam, sekarang lebih cepat 20 menit. Sepertinya sebuah kebiasaan yang aneh, remember, ini Padang! boleh dibilang kota 'santri'. Jam 9 malam saja jalan-jalan raya sudah mulai sepi, jarang-jarang cewek keluyuran lebih dari jam 10 malam, kemungkinannya kecuali pendatang yang 'belum tau aturan maen di Padang'. Tunggu saja, besok aku akan menjalankan rencanaku mengungkap rasa penasaranku, aku sangat penasaran, karena sepertinya aku kenal postur dan gerak tubuh cewek itu, hanya aku heran aja, ngapain tiap malam keluyuran naek sepeda?

Tuesday, August 14, 2007

di BIM Aku Menunggumu (part 2)

:: prelude::

(
sebuah lanjutan dari sepenggal cerita kecil tentang perjalanan Adam yang lama sekali tertunda penulisannya...still..critics are welcome..)

----------

Brett menyodok pinggangku keras-keras sehingga aku terbangun mendadak dari tidurku. Mataku sudah sangat sulit kubuka akibat semalam aku harus begadang menyusun dokumen-dokumen yang harus aku bawa ke Padang hari ini.
"Whatt??!"
"Open the window, please.." jari-jarinya meraih tutup jendela pesawat yang memang masih separuh tertutup.
"Hei!" kupukul ujung sikutnya yang menyentuh dadaku, entah sengaja atau nggak, "Don't push yours to my chest!"
Walau aku bukan perempuan, kalau bagian ujung sikut dari lengannya yang segede gada menekan tulang dadaku, rasanya nyeri dan aneh juga. Aku mengedarkan pandanganku yang masih suram, maless banget rasanya memaksa diri melek. Mbak-mbak pramugari lalu lalang memastikan semua meja di depan kursi telah tertutup dan semua jendela terbuka lebar. Jujur, sampai saat ini, aku masih sering bingung, apa hubungan jendela tertutup dengan pesawat mendarat/lepas landas.
"Flight Attendants, landing position." suara si pilot pesawat melalui pengeras suara memberitahukan kepada seluruh awak pesawat bahwa pesawat sekarang dalam posisi siap mendarat. Suara mesinnya cukup bergemuruh, penahan angin di bagian sayap (aku hanya melihat yang sebelah kanan saja, karena kebetulan aku duduk di daerah seputar sayap sebelah kanan) tampak membuka. Begitu menyentuh daratan, bagian yang merenggang itu akan menjeplak naik ke atas, menahan angin dari depan. Dugg!
Roda pesawat menyentuh daratan, Alhamdulillah....Sekarang pesawat masih dalam posisi mengerem. Aku memandang ke luar jendela, bandara di Kota Padang ini ternyata sangat luas walau aku juga bisa melihat ironisnya bahwa jumlah pesawat yang mangkal tidak dalam jumlah besar. Aku sudah semakin nggak sabar ingin segera melepas sabuk pengamanku dan berlari menuruni tangga pesawat menuju bandara yang luas ini.
"I can't wait for more to see Padang, the beautifully-told-city..."
"But...how do we go to our destination? Will the committee provide us a shuttle?" tanya Brett sembari menurunkan isi kabinnya. Koridor pesawat penuh sesak dan bising, karena semua orang berebut mengeluarkan isi kabinnya sekaligus berebut turun duluan.
"I don't think so," sahutku. Aku menghidupkan handphone-ku, sedikit berharap ada rekan yang bisa menjemput kami berdua di bandara karena kami sama-sama belum mengenal Padang sedikitpun. Aku mengangkat bahu, tanda tidak ada harapan dijemput.
"But this is our first coming!" Brett mulai gusar. Tas ranselnya sudah dibekapnya di depan dada. Lautan manusia di koridor masih mengantri keluar karena pintu pesawat baru saja dibuka. Aku membuka berkas petunjuk lokasi tempat pertemuan yang akan kami hadiri.
"Hotel Pangeran..hmm..we can ask the taxi driver."
"Okay, then."
"Would you please take me a picture in front of this airport?" aku meminta Brett mengambil fotoku di depan airport besar ini...yahhh..sudah menjadi kebiasaanku mengabadikan setiap kenangan di setiap daerah yang aku kunjungi.
Sepuluh menit kemudian, kami mengantri di baggage claim.
Sepuluh menit selanjutnya, kami sudah berada di dalam taxi yang kami order membawa kami ke Hotel Pangeran Beach.
"Pangeran Beach kesini jauh ya, Pak?" tanyaku setelah melihat kuitansi taxi yang tadi diberikan oleh petugas taxi bandara, hmm...90 ribu...mahal juga untuk ukuran taxi. Aku bayangkan tarif argo taxi bandara Jakarta dan Padang hampir mirip-mirip.
"Lumayan jauh, Bang."
"Sekarang kita sampai mana?" tanyaku lagi sambil memandang keluar jendel taxi melewati jalanan yang cukup ramai.
"Ini daerah Lubuk Buaya, Bang. Kawasan ramai, apalagi kalau pagi tiba, jadi pasar disini."
"Lubuk Buaya, hmm..ada kaitannya sama Lubang Buaya di Jakarta?"
"Hahah...ndak tahu, Bang."

Baru melihat-lihat kotanya, entah mengapa aku kok tiba-tiba punya perasaan jatuh cinta. Aku suka melihat bangunan-bangunan besarnya, hampir semua dihias atap gadang, yang aku baca di Ensiklopedia, dinamakan Atap Jorong.
Semakin memasuki wilayah kota, aku semakin banyak melihat bangunan-bangunan pemerintahan yang besar dan mengagumkan. Dari sisi jalan, hmm...boleh kubilang mirip-mirip dengan kota besar manapun, ramai, banyak angkot, dan masih banyak anak-anak berseragam sekolah.
"Banyak sekolah sore disini, Pak?"tanyaku pada sopir taxi dengan suara agak kencang, maklum, dia sedang menghidupkan tape mobil dengan volume yang lumayan tinggi.
"Banyak..banyak sekali. Kita baru saja melewati daerah persekolahan tadi."
Tidak berapa lama, taxi membelok ke halaman sebuah bangunan megah. Kita sudah sampai di hotel, rupanya. Aku tidak melihat spanduk besar kegiatan yang aku dan Brett hadiri di depan halaman hotel, aku jadi ragu.
"Benar disini Hotel Pangeran Beach?"
"Iya, benar," kata sopir taxi kami yang langsung keluar membukakan bagasi.
"Have we arrived yet?" Brett ikut ragu-ragu melihatku.
"Yes, I wish. Come on."
"Ini barang-barang Abang. Ini nomor handphone saya, saya akan menjemput Abang kalau pulang nanti. Kapan kira-kira akan pulang ke Jawa?"
Heh..aku terkejut. Apa ini taxi pulang pergi?
"Err...masih agak lama. Mungkin minggu depan,"jawabku sambil menerima nomor handphonenya.
"Baiklah, hubungi saya sewaktu Abang ingin dijemput. Nanti saya jemput kesini. Berapa nomor telepon Abang?"
"Ehmm..saya saja yang kontak Bapak. Terima kasih banyak," kataku mengulurkan uang seratus ribuan.
Rupanya si sopir sudah sedia kembalian buatku, dan aku nggak perlu berlama-lama menunggu sepuluh ribuku kembali.
"Sama-sama. Jangan lupa saya tunggu teleponnya."
Aku mengangguk. Kebiasaan sopir taxi yang jarang aku temui di kota-kota besar lainnya.
Dan akhirnya, dengan bantuan panitia, aku bisa segera check in di hotel. Lelah sekali rasanya. Aku ingin mandi dan tidur dulu, karena nanti malam masih ada agenda dengan panitia, dan kegiatan workshop yang sebenarnya baru besok pagi. Brett dan aku tinggal sekamar. Dia bukan pendengkur namun aku nggak tahan dengan rokok dan hobinya minum.
"It is hot here."
Brett benar, tanpa AC kamar, cuaca di kota Padang memang panas, wajar saja, karena setahuku garis khatulistiwa melewati daerah ini, tepatnya di Bukittinggi karena disana ada Monumen Equator. Ahh..semoga kami masih ada waktu dan kesempatan untuk ke Bukittinggi yang katanya indah banget.
"Wow..beach!!" Brett berseru di depan jendela
Pantai? Aku berlari ke arah jendela, dan Subhanallah..Brett nggak bohong, kami bisa melihat pantai dengan leluasanya. Ternyata Hotel ini terletak di depan pantai. Kulihat banyak sekali calon umbul-umbul dan walau hari sudah menjelang malam, aku masih melihat banyak orang masih berkutat di sekitar pantai. Sepertinya akan ada hajatan besar di tepian pantai, entah apa nama pantainya.
"What beach is it?"
Aku mengangkat bahu. "I'll check the map."
Brett berjalan ke arah balkon sementara aku mencari-cari peta, tepat disaat telepon kamar berdering yang ternyata dari panitia. Aku batal melanjutkan rencanaku mencari peta, karena aku harus bergegas mandi. Setengah jam lagi aku sudah harus berada di lobi, ada agenda ramah tamah dengan pihak panitia penyelenggara workshop.

19.07
Sehabis aku solat Maghrib (Padang berbeda waktu solat dengan Jawa, terpaut 20 menit) aku dan Brett segera turun ke lobi.
"Hey, look at there, ten o'clock. How sexy that girl!"
Mendengar kata-kata 'sexi' otakku langsung berpikir ke bentuk cewek muda yang memakai baju ketat dan serba terbuka. Aku sudah membayangkan keindahannya. Tapi aku tidak menemukan cewek berpakaian terbuka sama sekali.
"Where the sexy girl?" bisikku sambil berjingkat, beda tinggiku dan Brett terpaut hampir 20 cm. Dia kayak raksasa saja.
"That corner, the blonde one."
"Arrgghhh..!" aku mengomel. Ternyata cewek bule. Aku nggak suka cewek bule.
Brett menepuk pundakku, "Let's sit there, near her."
Yahh..demi dia lahh..aku mengalah saja. Workshop yang akan kami ikuti bakal jarang dihadiri cewek, jadi kemungkinan bertemu cewek sangatlah minim. Jika aku tidak menulis artikel berhadiah di koran terbesar di negara ini beberapa bulan yang lalu, belum tentu aku bersama bule norak bisa terdampar kesini. Semenarik apapun materi workshop, tiket bisa sampai ke Ibukota Sumbar ini lumayan menyedot ongkos. Kalau Brett mahh...dia emang hobi jalan-jalan, bayar berapapun, asal bisa ikut aku jalan-jalan..uffggghh..
"Bapak Aryan Adam?" seorang cewek (pribumi) menghampiriku, memanggil namaku.
"Iya..saya?"
"Boleh saya lihat ID card nya, Pak?"
"Ahh..jangan panggil saya 'pak' kan saya masih muda?"godaku.
Si cewek muda itu tersenyum. Aku menyerahkan KTP-ku.
"Ohh...asli Jogja, Pak?
"Yeah..muka saya kurang njawani ya?" isengku kumat
Cewek itu tersenyum, "Saya catat dulu ya?" dia menarik kursi di seberang kursiku, menulis identitasku, lalu mengembalikannya lagi."Terima kasih, Pak."
Cewek itu pergi. Yaahh..walau dibilang nggak cantik, tapi lumayan ramah juga. Kulirik di kursi sebelahku Brett masih asyik bercengkerama dengan cewek bule incerannya. Aku mengedarkan pandanganku, siapa tahu nemu cewek lain yang lebih cantik lainnya. But it's null..nothing..none..

"HOEKKK!"
Aku muntah-muntah di kamar mandi, karena tiba-tiba mencium bau minuman keras yang sangat memusingkan kepalaku yang baru separo keisi oksigen.
"$%!&%$#&$%!!" umpatku kesal.
Yang ingin kulempari umpatan masih pules tidur di ranjangnya. Nggak tau pulang jam berapa semalam.
"Buset, dah. Berapa botol dia tenggak yak. Mentang-mentang dia nggak ikut workshop pagi ini," omelku masih tertuju kepada si penidur.
Aku mencari-cari peraturan penyewa kamar hotel yang biasanya ditempelin di seputaran dinding dekat tempat tidur. Semoga saja kutemukan pasal yang melarang penyewa kamar membawa minuman beralkoholnya ke dalam kamar. Aku nggak tahu dia abis minum apa, yang jelas bukan seperti wine yang sering dia beli (aku sampai hafal..uffhhh)
Aku bertambah mengumpat ketika nggak menemukan pasal larangan itu, yang dilarang hanya pets. Kepalaku pusing banget, tapi aku harus segera berwudhu, solat lalu mandi karena sudah jam 6.00. Subuh di Padang memang sante banget..
"Take care, dude. I'll go down to the meeting room now,"pamitku pada Brett yang masih pules. Disamping pipinya aku tinggalin notes,

'Don't ever drunk in this room or pee in the bathroom after drunk anymore although it is while I am sleeping since I still can breathe your stinky mouth in the late morning! Use guests' rest rooms, ok!'

Aku mengaca sekali lagi, membenarkan letak rambutku yang baru saja kuperciki air. Hm...seems like Mr Nice Guy..(terpaksa memuji diri sendiri).
"Have a nice day, Adam," kataku pada diriku sendiri.
Di koridor, di lift, di seputaran lobby aku belum bertemu orang yang bergaya macam aku pagi ini, hanya office boy-girl yang lalu lalang sambil tersenyum ramah.

Dan hari ini agendanya masih seputaran asal mula kegiatan disini, begitu hasil scanning mataku membaca run down acara. Hari besar buatku baru dua hari lagi, dimana aku harus tampil mempertanggungjawabkan tulisan artikelku di koran nasional bulan lalu. Semoga saja hari pembuka ini membawa moodku ke arah yang lebih baik setelah pagi ini aku harus menghadapi kegilaan Brett dengan minumannya. Apa yang dilakukannya di kamar mandi semalaman. Apa dia juga muntah-muntah? Baunya menyengat banget. Aku nggak yakin, room service mau membersihkan kamar mandi kami, atau malah meng-surcharge kami karena baunya? Ufffhhh...aku ogah banget mikirin yang bakal terjadi di kamar 308.

Tapi, rupanya Tuhan masih berbaik hati padaku karena bisa-bisanya mataku menemukan sosok manis di sela-sela kejemuanku mengikuti si pembicara. She's so sweet...rambutnya panjang, dikuncir kuda (bahasa sopannya apa sih!) wajahnya fresh banget. Tapi aku mau jaim, jaga image, nggak mau keliatan norak memperhatikannya, lagian kan belum kenal. Pikiranku tentang cewek itu kok kebawa terus yah...bahkan sampai malam harinya, saat aku dan Brett memutuskan menonton pertunjukan di pantai yang rupanya sedang ada perayaan entah apa. Ada banyak sekali perahu-perahu naga tertata rapi di tepian pantai, sepertinya untuk acara besok pagi.
"Can u drive a dragon boat?" aku asyik meneliti ukiran di badan sebuah perahu naga berwarna merah, warna kesukaanku. Aku sebenarnya nggak tahu maksud ukiran itu. Aku hanya tau, beberapa bulan lalu tim perahu naga kota Padang menang lomba di China. Cool...
Brett mengambil sebatang rokok dari kantongnya, lalu menyalakan sebatang rokoknya.
"Tina told me this morning that she wants to accompany me to Bukittinggi tomorrow."
"Who's Tina?" walau aku asyik mengamati ukiran perahu naga, aku masih mengacuhkan Brett.
"The blonde. She will absent by tomorrow."
Aku mengumpat, "@#&^%&#@%!" karena aku nggak bisa ikut jalan-jalan ke Bukittinggi.
Saking keselnya, aku sampai nggak menyadari ada paku menancap di ujung tepian kapal, dan aku memukulkan telapak tanganku ke paku itu.
"Ouchh!" teriakku.
Tanganku seperti kena tusuk kayu perahu. Hm..semoga bukan petaka buruk (idih...hari gini masih saja percaya tahayul).
"Be careful, dude!" Brett masih tegak berdiri di tempat semula sambil mengepulkan asap rokoknya alih-alih membantuku mengobati lukaku.

Di arah jalan raya, aku melihat bayang manusia berambut panjang, menaiki sepeda di dekat tembok batas pantai. Karena aku berada di sisi yang gelap dan dia membelakangi cahaya dari hotel yang gemerlapan, raut wajahnya nggak kelihatan. Rambutnya melambai-lambai. Semoga yang aku lihat ini beneran manusia, dan cewek...
Ya Tuhan, sebegitu pengennya aku punya cewek, dan sepertinya cewek Padang boljug.

(to be continued later, again)

love. rere. arleynova

Labels:

Tuesday, July 24, 2007

di BIM Aku Menunggumu (part 1)

:: prelude::

(Sebuah cerita cuplikan dari Grand Story-nya...Sebuah Perjalanan tentang Cinta, yang pernah menjadi Impian penulis untuk ditulis, hehe...- Alhamdulillah...akhirnya postingan ini terbit juga...)
Happy Reading to All, critic and comments are welcome ;)


10.00
"Hurry up, we're late, dude!"

Aku berlari-lari menuju pangkalan taxi terdekat. Aku tadi masih sempat melihat bahwa di pojok tikungan di depanku ada taxi bercat putih yang lampu indikator penumpangnya masih menyala. Di belakangku, Brett ikutan berlari-lari kecil sambil menyeret kopernya yang kurasa agak terlalu berat, entah isinya apa saja.
"Wait, Adam. Don't push me running this much. It's heavy, you know!" kata Brett di sela-sela napasnya yang tersengal-sengal.
Aku berhenti sejenak. Tanganku melambai ke arah taxi bercat putih yang tadi sempat kulihat. Aku berharap sopir taxinya melihat ke arahku saat ini. Kulihat selanjutnya pintu taxi bagian sopir ditutup, hmm..berarti sopirnya mengetahui lambaianku. Benar saja, dia memundurkan taxinya menuju ke arahku dan Brett yang sekarang sudah tiba di sebelahku berdiri. Nafasnya yang berbau wine masih kental kurasakan.
"Drunk, huh?"
Brett sepertinya menyadari aku cukup kuat mengenali bau Red Wine yang sepertinya baru saja dia tenggak. Rupanya dia masih saja suka kelayapan berbelanja wine. Cuaca Indonesia sudah cukup panas, masih juga dia butuh wine? Aneh!
"Just a little," jawabnya mencoba sok innocent.
"When?"
"This morning, i think."
Ahh..dia bahkan masih bilang i think, untuk mengurangi penyangkalannya. Anyway, taxi sudah sampai di dekat kami, kami membuka pintu, "Bandara, pak. Cepat ya...keburu ketinggalan pesawat nih," kataku kepada sopirnya.
"Baik mas," jawab sopir taxi yang sudah kunaiki. Kulirik di dashboard sebelah kiri taxi, ada namanya, Suparmin. Dari Identitas Sopir yang ditempel di dashboard itu pula aku tahu jika dia sudah bekerja di perusahaan taxi ini (setahuku namanya Taxi Mitra) selama 3 tahun. Hmm..sudah cukup lama juga.
"Cloudy, huh?" Brett menyenggol lenganku.
Aku spontan melihat ke arah langit. Aku benci penerbangan pada saat cuaca berawan. Seperti hari ini, sekarang sudah bulan Juli, sudah masuk musim kemarau bahkan di daerah Selatan sudah banyak kekeringan. Tapi mengapa pagi ini berawan?
"I dislike cloud in the air."
"Hm..i do, too."
Brett mengeluarkan tetra pack berisi susu segar dari tas ranselnya.
"Is it allright, drinking milk after wine? Extreemely Red Wine?"
"Oh..mine..I just forgot, dude. Thank you for reminding me."
Oh God..yang bener aja, dia mau terbang selama 3 jam masih sempat-sempatnya menenggak wine, dan hampir saja menenggak sterilized milk.
"Are you nervous flying? Padang is not too far from here, we're going there, not to California,"kataku sambil mencari tiket kami di selipan kertas-kertas dalam tas cangklongku.
"Hahaha...no. I am not nervous now, I think you must be."
Aku tertawa, dalam hati aku membenarkan ucapan Brett. Aku sangat nervous terbang kali ini, eh, bukan terbangnya, tapi kali ini Padang-nya, dan penerbangan pertama ke Padang-nya. Begitu taxi kami sampai di bandara, aku langsung membuka pintu, menerobos kawanan portir-portir yang menunggu kami di pintu taxi begitu ada taxi berhenti.
"Nggak pak. Bawaan kami sedikit," ucapku menghindari tawaran portir.
Aku mengeluarkan carrier-ku, sedang Brett mengeluarkan kopernya. Brett nggak suka sama sekali memanggul ransel, apalagi berpergian jarak jauh. Kalau kali ini aku memilih memakai ransel dan tidak memakai koper, karena aku belum sempat membeli koper lagi setelah koper kesayanganku hilang di kamar kos.
"Come on, hurry up!" kataku sambil berlari menuju ruang check in.
"Are we going late?"
Aku melihat jam tanganku. Tinggal 3 menit lagi, loket check in akan ditutup.
"Three minutes more.."
Aku berdoa, semoga
mbak-mbak penjaga counternya nggak ngamuk-ngamuk seperti biasa kalau aku terlambat check in.
"Check in akan ditutup sebentar lagi!" petugas bandara melihatku tergesa-gesa maka dia segera meneriakiku.
"Jakarta!" teriakku sambil meletakkan dua lembar tiketku di meja check in.
Wajah mbak-mbak yang di hadapanku rada masam. Mungkin dia kesal ama aku yang telat. Aku pasrah aja, sambil terus berdoa semoga tidak terlambat check in. Bisa hangus tiketku, dan kalau hangus, aku harus membeli 2 lembar tiket lagi, berarti 2 juta akan keluar lagi..oh..no!
"Ada bagasi?" mata mbak-mbak di depanku tampak berusaha menarik perhatian orang yang sekarang sedang berdiri di belakangku, menyentuh punggungku. Brett. Aih...kalah ganteng rupanya aku ama bule norak di belakangku!
"I have one," kata Brett menyela sambil membenarkan letak kacamata berbingkai putihnya dan kemeja biru lumutnya. Untung hari ini dia mau kupaksa memakai kemeja normal layaknya laki-laki normal di Indonesia bepergian, bukan baju pantai warna hijau mencolok yang sering dia pilih sebagai pelindung tubuhnya seperti biasa. Brett menyorongkan koper Polonya mendekati tempat penimbang bagasi. Saat ini baru carrier-ku yang ditimbang dan diberi label.
"OK, terima kasih," sahutku kepada mbak-mbak counter setelah semua urusan check in ku beres. Aku menuju ruang tunggu bandara, diikuti Brett. Brett mengeluarkan bungkus rokoknya.
"Don't smoking while you're with me, OK?"
Aku nggak tahan dengan jenis rokok apapun. Seorang teman mengolokku aku kayak banci karena nggak bisa merokok dan nggak tahan asap rokok. Banci?? huh, emang semua banci nggak doyan rokok? Atau apa semua orang yang bisa merokok saja yang nggak banci? Berarti Ibu-Ibu itu sebagian besar banci donk, kan nggak doyan rokok! Huh, Pendapat yang norak!
Brett urung mengeluarkan rokoknya. Dia sangat menghormati aku, yaahh...gimana lagi. Kalaupun dia nekat merokok di dekatku, bisa kuhajar dia. Selama satu jam kemudian kira-kira pukul 11.35, kami sudah boarding di dalam pesawat. Sejam ke depan, aku harusnya sudah sampai di Cengkareng, dan menunggu waktu transit sampai jam 12.35 nanti. Ughh..aku nggak tau mo ngapain aja di Cengkareng berduaan ama bule norak di sampingku.
"I am sleepy now." kataku ke Brett sambil memejamkan mata.
Brett yang duduk di dekat jendela hanya menoleh sebentar. Sejak tadi tangannya sibuk men-ceklak ceklik shotting button di kamera Nikon D80 lensa 18-135mm terbarunya. Entah apa bagusnya foto awan baginya, yang jelas menurut ceritanya sendiri, dia cukup menggemari fotografi sejak dia SMA. Aku tertidur dengan suksesnya, dan aku baru bangun ketika pesawat mendarat dan menimbulkan goncangan kuat di kursiku sampai kepalaku terbentur.
"Arrrghhh!"
"Welcome to Jakarta, dude. Your sleep is soundly."
"Are you serious? Are we arrived in Jakarta?" tanyaku sambil mengucek mataku.
Brett sudah memasukkan kameranya ke dalam tas ranselnya. "Yes, Sir."
Aku bermimpi, kami berdua sudah sampai di Padang, Sumatera Barat, walau aku sendiri bingung dalam penantian menunggu pesawat parkir di terminal. Aku belum pernah ke Padang, lalu bagaimana aku bisa yakin, bandara dalam mimpiku adalah Bandara Padang?

--
16.00
Setelah pesawat mengalami delay selama kurang lebih 30 menit, kami pun terbang lagi, kali ini menuju Tanah Minangkabau, tanah kelahiran Datuk Maringgih dan Siti Nurbaya.
"Have you ever been there?" tanyaku ke Brett sambil membuka peta Kota Padang yang kemarin aku print. Sebenarnya, pertanyaan yang kusampaikan itu jelas-jelas retorik. Aku sudah tahu kalau Brett belum pernah ke Padang. Selama enam bulan dia di Indonesia, dia hanya mengunjungi Bali dan Lombok di luar Jawa. Sisanya dia habiskan berkutat dengan segala kesibukannya di Malvis, kamar kosnya yang sempit sambil bermain rumus-rumus coding dan syntax yang sering bikin kami menderita lahir batin.


"Yeah..you know, I have never been anywhere but Bali and Lombok..However, I have never heard that name before you planned of going there today..hummff..is Padang nice?"
"Yeahhh..you also know, that this flight is my first flight to Padang. Uff!" kami sama-sama kayak dua orang bego yang sedang meributkan sebuah kota bernama Padang.
"I can't wait for more to see Padang," gumamku
"Yeaahh...you will see your future life there,"balasnya sambil menggebuk lenganku dengan gulungan majalah kesehatan Pria, Men's Health.
Pesawat yang kami naiki sudah meninggalkan angkasa Jakarta sejak 20 menit yang lalu. Sekarang aku nggak tahu lagi sedang berada di angkasa sebelah mana. Mungkin Palembang, karena aku melihat corak sungai yang lebar dan panjang membentuk meander di tengah dataran rendah. Setahuku, kota di wilayah Sumatera hampir semuanya dilewati sungai-sungai besar, namun terpanjang masih Sungai Musi yang terletak di Sumatera Selatan. Kami beruntung, walau tadi cuaca cukup mendung sebelum Jakarta, namun melewati Palembang (dugaanku) awannya tidak terlalu padat, dan malah suasananya cerah sekali. Jika pesawat ini tidak lagi delay dan jadwal penerbangan sesuai dengan yang tertera pada boarding pass kami, maka kami akan segera tiba di Bandara Padang sekitar jam 17.30...

(to be continued later)

love. rere. arleynova

Labels:

Monday, July 09, 2007

air dalam kemasan

suatu siang yang terik di kampus, aku bertemu dengan Nick, dia mahasiswa "operan" dari Ozy - negara tetangga yang kaya akan kangguru. Nick menanyaiku,
"can u gimme your water?"
dia menunjuk botol merk A*** yang sedang kupegang.
"sure, you can. here it is." (sebagai mahasiswa yang cukup ngerti bahasa inggris, aku harus jawab pake bahasa inggris pula)
"but...hmm..is it mineral?" entah apa yang ada di benaknya, kenapa dia bertanya keaslian mineral nggaknya isi botol minumku.
"of course, it is."
"hm...are you sure, you bought the good one?"
weks! aku terpana dengan kata-katanya. kenapa dia bertanya tentang kualitas?
"i didnt get what you mean to me?"
"err...the bottle is dull, and it seems tasty."
aku otomatis kaget. jangan-jangan dia melihat ada cicak di dalam botol airku.
"no lizard in it, huh?"
"no..no..but...i am sorry. i think i'm gonna buy it by myself. does the canteen sell it?"
hm...pasti ada apa-apa didalam botolku. dan ketika Nick mengembalikannya ke tanganku, dia masih sempat berkata,
"dont drink it, i suggest. i'll buy you the fresh one. you need it. just wait here."

aku memeriksa isi botolku. bening, tidak ada apa-apa, hanya sebentuk air yang mengikuti bentuk botol berukuran 1500ml. sebenarnya botol ini bukan botol segelan, yahh..aku membelinya sudah 3 hari yang lalu. tapi aku merefill nya dengan air kemasan galon bersegel resmi tentu saja dari merk terdaftar yang sama. i am curious, does it cause any problem to Nick whether he drinks the refilled-water?

hanya dalam waktu 10 menit, Nick kembali ke tempat aku duduk.
"you must drink it, instead, keep that bottle to bin."
"what's wrong?"
"is that refilled?"
"sure, but i filled it with the same brand as it is. does it cause any problems to your health?"
"no, but..i think it is unusual for me to drink with the same bottles everyday."

oh..Nick,
hidup sehat sih hidup sehat,
tapi kalau kantong lagi nggak sehat, masak harus tetap hidup sehat?
we live harshly here, Nick, so please be understand that it is usual for us to drink with the same bottles everyday, moreover, sharing with several mouths!

love.rere.arleynova

Labels:

Monday, June 04, 2007

soulmate

prelude:
siang yang lumayan cerah (cenderung panas diluar), disela-sela kesibukanku mengurusi adek-adek yang mau masuk kampus tertua di belantara Indonesia ini, sambil tangan kiri terus menerus menerima telepon masuk dari klienku yang kejam mengejar-kejarku...huks...(yogya, 4th june 2007)

good day, long time no post!

kenapa judul postingan kali ini 'soulmate'?
apakah berkaitan dengan pernikahan? atau karena aku sedang jatuh cinta dan sedang mendamba seorang untuk beneran menjadi soulmate-ku kelak?

mostly, people think that soulmate means husband-wife. di kamus pun tertulis mirip-mirip seperti itu. di kamus cintaku? soulmate means a person that can dive my heart, my soul, my mind...

dan tentu saja nggak mudah didapat, bukan?
jika kita ingin mendapat tipe person seperti itu, cobalah berkaca terlebih dahulu, apakah kita sudah dapat memahami seseorang secara tulus, murni, tanpa embel-embel, but from deep down of our hearts, lalu menjadikan orang tersebut bagian dari hidup kita bahkan hampir-hampir di setiap detak jantung kita.

hidup serumah, tidur seranjang, makan sepiring (kalo nggak punya piring lain), tanpa ada rasa jijik, rasa muak, rasa benci, karena kalo menikah dengan orang kita benci, can u imagine?!

aku jadi inget liriknya McCain,

I'll be your crying shoulder
I'll be your love suicide
and I'll be better when I'm older
I'll be the greatest fan of your life

sepertinya keren banget...dimana si McCain rela berkorban jadi apapun demi orang yang paling dia sayang. in fact, not everyman can do!

saat aku kecil, aku sering banget bermimpi, someday i'll find my truly soulmate. he's my prince charming, my lovely husband, my great father for my children, my all..
tapi di perjalanan hidupku, tentu saja, tidaklah semulus impian. banyak kerikil2 berbatu yang terus menerus kusandung, berulang kali membuatku terjatuh. dan entah kapan aku mulai bisa bangkit dan berlari sekencang mungkin, seperti Julia Roberts lari di hari pernikahannya yang kesekian kali dalam Runaway Bride.

sometimes, impian masa kecil terlalu membebani kita dalam mencari sosok yang sempurna bagi hidup kita. betul nggak?

kadang apa yang kita cari juga nggak selamanya ada di depan mata, tapi harus dicari sampai ke pedalaman-pedalaman, ke pelosok-pelosok, nggak semuanya all-in ready kayak deretan makanan-makanan ready to cook di supermarket dekat rumah.
tapi kadang, dengan penuh kejutannya, apa yang kita impian bisa dengan instantnya tersedia di depan mata seperti Juwita menjentikkan tongkat saktinya, dan dalam sekejap Oki bandel bisa mendapatkan apapun yang dia mau berkat bantuan Juwita (sayangnya, ini hanya ada dalam dongeng negeri antah berantah)

aku masih terus mencari jawaban tentang batasan soulmate itu sendiri
masalah cinta, love, passion terkadang terlalu blur bagiku. seringnya aku kebingungan mendefinisikannya. cinta yaa cinta..love is cinta...passion?


love. rere. arleynova.



Labels: