di BIM Aku Menunggumu (part 1)
:: prelude::
(Sebuah cerita cuplikan dari Grand Story-nya...Sebuah Perjalanan tentang Cinta, yang pernah menjadi Impian penulis untuk ditulis, hehe...- Alhamdulillah...akhirnya postingan ini terbit juga...)
Happy Reading to All, critic and comments are welcome ;)
10.00
"Hurry up, we're late, dude!"
Aku berlari-lari menuju pangkalan taxi terdekat. Aku tadi masih sempat melihat bahwa di pojok tikungan di depanku ada taxi bercat putih yang lampu indikator penumpangnya masih menyala. Di belakangku, Brett ikutan berlari-lari kecil sambil menyeret kopernya yang kurasa agak terlalu berat, entah isinya apa saja.
"Wait, Adam. Don't push me running this much. It's heavy, you know!" kata Brett di sela-sela napasnya yang tersengal-sengal.
Aku berhenti sejenak. Tanganku melambai ke arah taxi bercat putih yang tadi sempat kulihat. Aku berharap sopir taxinya melihat ke arahku saat ini. Kulihat selanjutnya pintu taxi bagian sopir ditutup, hmm..berarti sopirnya mengetahui lambaianku. Benar saja, dia memundurkan taxinya menuju ke arahku dan Brett yang sekarang sudah tiba di sebelahku berdiri. Nafasnya yang berbau wine masih kental kurasakan.
"Drunk, huh?"
Brett sepertinya menyadari aku cukup kuat mengenali bau Red Wine yang sepertinya baru saja dia tenggak. Rupanya dia masih saja suka kelayapan berbelanja wine. Cuaca Indonesia sudah cukup panas, masih juga dia butuh wine? Aneh!
"Just a little," jawabnya mencoba sok innocent.
"When?"
"This morning, i think."
Ahh..dia bahkan masih bilang i think, untuk mengurangi penyangkalannya. Anyway, taxi sudah sampai di dekat kami, kami membuka pintu, "Bandara, pak. Cepat ya...keburu ketinggalan pesawat nih," kataku kepada sopirnya.
"Baik mas," jawab sopir taxi yang sudah kunaiki. Kulirik di dashboard sebelah kiri taxi, ada namanya, Suparmin. Dari Identitas Sopir yang ditempel di dashboard itu pula aku tahu jika dia sudah bekerja di perusahaan taxi ini (setahuku namanya Taxi Mitra) selama 3 tahun. Hmm..sudah cukup lama juga.
"Cloudy, huh?" Brett menyenggol lenganku.
Aku spontan melihat ke arah langit. Aku benci penerbangan pada saat cuaca berawan. Seperti hari ini, sekarang sudah bulan Juli, sudah masuk musim kemarau bahkan di daerah Selatan sudah banyak kekeringan. Tapi mengapa pagi ini berawan?
"I dislike cloud in the air."
"Hm..i do, too."
Brett mengeluarkan tetra pack berisi susu segar dari tas ranselnya.
"Is it allright, drinking milk after wine? Extreemely Red Wine?"
"Oh..mine..I just forgot, dude. Thank you for reminding me."
Oh God..yang bener aja, dia mau terbang selama 3 jam masih sempat-sempatnya menenggak wine, dan hampir saja menenggak sterilized milk.
"Are you nervous flying? Padang is not too far from here, we're going there, not to California,"kataku sambil mencari tiket kami di selipan kertas-kertas dalam tas cangklongku.
"Hahaha...no. I am not nervous now, I think you must be."
Aku tertawa, dalam hati aku membenarkan ucapan Brett. Aku sangat nervous terbang kali ini, eh, bukan terbangnya, tapi kali ini Padang-nya, dan penerbangan pertama ke Padang-nya. Begitu taxi kami sampai di bandara, aku langsung membuka pintu, menerobos kawanan portir-portir yang menunggu kami di pintu taxi begitu ada taxi berhenti.
"Nggak pak. Bawaan kami sedikit," ucapku menghindari tawaran portir.
Aku mengeluarkan carrier-ku, sedang Brett mengeluarkan kopernya. Brett nggak suka sama sekali memanggul ransel, apalagi berpergian jarak jauh. Kalau kali ini aku memilih memakai ransel dan tidak memakai koper, karena aku belum sempat membeli koper lagi setelah koper kesayanganku hilang di kamar kos.
"Come on, hurry up!" kataku sambil berlari menuju ruang check in.
"Are we going late?"
Aku melihat jam tanganku. Tinggal 3 menit lagi, loket check in akan ditutup.
"Three minutes more.."
Aku berdoa, semoga mbak-mbak penjaga counternya nggak ngamuk-ngamuk seperti biasa kalau aku terlambat check in.
"Check in akan ditutup sebentar lagi!" petugas bandara melihatku tergesa-gesa maka dia segera meneriakiku.
"Jakarta!" teriakku sambil meletakkan dua lembar tiketku di meja check in.
Wajah mbak-mbak yang di hadapanku rada masam. Mungkin dia kesal ama aku yang telat. Aku pasrah aja, sambil terus berdoa semoga tidak terlambat check in. Bisa hangus tiketku, dan kalau hangus, aku harus membeli 2 lembar tiket lagi, berarti 2 juta akan keluar lagi..oh..no!
"Ada bagasi?" mata mbak-mbak di depanku tampak berusaha menarik perhatian orang yang sekarang sedang berdiri di belakangku, menyentuh punggungku. Brett. Aih...kalah ganteng rupanya aku ama bule norak di belakangku!
"I have one," kata Brett menyela sambil membenarkan letak kacamata berbingkai putihnya dan kemeja biru lumutnya. Untung hari ini dia mau kupaksa memakai kemeja normal layaknya laki-laki normal di Indonesia bepergian, bukan baju pantai warna hijau mencolok yang sering dia pilih sebagai pelindung tubuhnya seperti biasa. Brett menyorongkan koper Polonya mendekati tempat penimbang bagasi. Saat ini baru carrier-ku yang ditimbang dan diberi label.
"OK, terima kasih," sahutku kepada mbak-mbak counter setelah semua urusan check in ku beres. Aku menuju ruang tunggu bandara, diikuti Brett. Brett mengeluarkan bungkus rokoknya.
"Don't smoking while you're with me, OK?"
Aku nggak tahan dengan jenis rokok apapun. Seorang teman mengolokku aku kayak banci karena nggak bisa merokok dan nggak tahan asap rokok. Banci?? huh, emang semua banci nggak doyan rokok? Atau apa semua orang yang bisa merokok saja yang nggak banci? Berarti Ibu-Ibu itu sebagian besar banci donk, kan nggak doyan rokok! Huh, Pendapat yang norak!
Brett urung mengeluarkan rokoknya. Dia sangat menghormati aku, yaahh...gimana lagi. Kalaupun dia nekat merokok di dekatku, bisa kuhajar dia. Selama satu jam kemudian kira-kira pukul 11.35, kami sudah boarding di dalam pesawat. Sejam ke depan, aku harusnya sudah sampai di Cengkareng, dan menunggu waktu transit sampai jam 12.35 nanti. Ughh..aku nggak tau mo ngapain aja di Cengkareng berduaan ama bule norak di sampingku.
"I am sleepy now." kataku ke Brett sambil memejamkan mata.
Brett yang duduk di dekat jendela hanya menoleh sebentar. Sejak tadi tangannya sibuk men-ceklak ceklik shotting button di kamera Nikon D80 lensa 18-135mm terbarunya. Entah apa bagusnya foto awan baginya, yang jelas menurut ceritanya sendiri, dia cukup menggemari fotografi sejak dia SMA. Aku tertidur dengan suksesnya, dan aku baru bangun ketika pesawat mendarat dan menimbulkan goncangan kuat di kursiku sampai kepalaku terbentur.
"Arrrghhh!"
"Welcome to Jakarta, dude. Your sleep is soundly."
"Are you serious? Are we arrived in Jakarta?" tanyaku sambil mengucek mataku.
Brett sudah memasukkan kameranya ke dalam tas ranselnya. "Yes, Sir."
Aku bermimpi, kami berdua sudah sampai di Padang, Sumatera Barat, walau aku sendiri bingung dalam penantian menunggu pesawat parkir di terminal. Aku belum pernah ke Padang, lalu bagaimana aku bisa yakin, bandara dalam mimpiku adalah Bandara Padang?
--
16.00
Setelah pesawat mengalami delay selama kurang lebih 30 menit, kami pun terbang lagi, kali ini menuju Tanah Minangkabau, tanah kelahiran Datuk Maringgih dan Siti Nurbaya.
"Have you ever been there?" tanyaku ke Brett sambil membuka peta Kota Padang yang kemarin aku print. Sebenarnya, pertanyaan yang kusampaikan itu jelas-jelas retorik. Aku sudah tahu kalau Brett belum pernah ke Padang. Selama enam bulan dia di Indonesia, dia hanya mengunjungi Bali dan Lombok di luar Jawa. Sisanya dia habiskan berkutat dengan segala kesibukannya di Malvis, kamar kosnya yang sempit sambil bermain rumus-rumus coding dan syntax yang sering bikin kami menderita lahir batin.
"Yeah..you know, I have never been anywhere but Bali and Lombok..However, I have never heard that name before you planned of going there today..hummff..is Padang nice?"
"Yeahhh..you also know, that this flight is my first flight to Padang. Uff!" kami sama-sama kayak dua orang bego yang sedang meributkan sebuah kota bernama Padang.
"I can't wait for more to see Padang," gumamku
"Yeaahh...you will see your future life there,"balasnya sambil menggebuk lenganku dengan gulungan majalah kesehatan Pria, Men's Health.
Pesawat yang kami naiki sudah meninggalkan angkasa Jakarta sejak 20 menit yang lalu. Sekarang aku nggak tahu lagi sedang berada di angkasa sebelah mana. Mungkin Palembang, karena aku melihat corak sungai yang lebar dan panjang membentuk meander di tengah dataran rendah. Setahuku, kota di wilayah Sumatera hampir semuanya dilewati sungai-sungai besar, namun terpanjang masih Sungai Musi yang terletak di Sumatera Selatan. Kami beruntung, walau tadi cuaca cukup mendung sebelum Jakarta, namun melewati Palembang (dugaanku) awannya tidak terlalu padat, dan malah suasananya cerah sekali. Jika pesawat ini tidak lagi delay dan jadwal penerbangan sesuai dengan yang tertera pada boarding pass kami, maka kami akan segera tiba di Bandara Padang sekitar jam 17.30...
(to be continued later)
love. rere. arleynova
(Sebuah cerita cuplikan dari Grand Story-nya...Sebuah Perjalanan tentang Cinta, yang pernah menjadi Impian penulis untuk ditulis, hehe...- Alhamdulillah...akhirnya postingan ini terbit juga...)
Happy Reading to All, critic and comments are welcome ;)
10.00
"Hurry up, we're late, dude!"
Aku berlari-lari menuju pangkalan taxi terdekat. Aku tadi masih sempat melihat bahwa di pojok tikungan di depanku ada taxi bercat putih yang lampu indikator penumpangnya masih menyala. Di belakangku, Brett ikutan berlari-lari kecil sambil menyeret kopernya yang kurasa agak terlalu berat, entah isinya apa saja.
"Wait, Adam. Don't push me running this much. It's heavy, you know!" kata Brett di sela-sela napasnya yang tersengal-sengal.
Aku berhenti sejenak. Tanganku melambai ke arah taxi bercat putih yang tadi sempat kulihat. Aku berharap sopir taxinya melihat ke arahku saat ini. Kulihat selanjutnya pintu taxi bagian sopir ditutup, hmm..berarti sopirnya mengetahui lambaianku. Benar saja, dia memundurkan taxinya menuju ke arahku dan Brett yang sekarang sudah tiba di sebelahku berdiri. Nafasnya yang berbau wine masih kental kurasakan.
"Drunk, huh?"
Brett sepertinya menyadari aku cukup kuat mengenali bau Red Wine yang sepertinya baru saja dia tenggak. Rupanya dia masih saja suka kelayapan berbelanja wine. Cuaca Indonesia sudah cukup panas, masih juga dia butuh wine? Aneh!
"Just a little," jawabnya mencoba sok innocent.
"When?"
"This morning, i think."
Ahh..dia bahkan masih bilang i think, untuk mengurangi penyangkalannya. Anyway, taxi sudah sampai di dekat kami, kami membuka pintu, "Bandara, pak. Cepat ya...keburu ketinggalan pesawat nih," kataku kepada sopirnya.
"Baik mas," jawab sopir taxi yang sudah kunaiki. Kulirik di dashboard sebelah kiri taxi, ada namanya, Suparmin. Dari Identitas Sopir yang ditempel di dashboard itu pula aku tahu jika dia sudah bekerja di perusahaan taxi ini (setahuku namanya Taxi Mitra) selama 3 tahun. Hmm..sudah cukup lama juga.
"Cloudy, huh?" Brett menyenggol lenganku.
Aku spontan melihat ke arah langit. Aku benci penerbangan pada saat cuaca berawan. Seperti hari ini, sekarang sudah bulan Juli, sudah masuk musim kemarau bahkan di daerah Selatan sudah banyak kekeringan. Tapi mengapa pagi ini berawan?
"I dislike cloud in the air."
"Hm..i do, too."
Brett mengeluarkan tetra pack berisi susu segar dari tas ranselnya.
"Is it allright, drinking milk after wine? Extreemely Red Wine?"
"Oh..mine..I just forgot, dude. Thank you for reminding me."
Oh God..yang bener aja, dia mau terbang selama 3 jam masih sempat-sempatnya menenggak wine, dan hampir saja menenggak sterilized milk.
"Are you nervous flying? Padang is not too far from here, we're going there, not to California,"kataku sambil mencari tiket kami di selipan kertas-kertas dalam tas cangklongku.
"Hahaha...no. I am not nervous now, I think you must be."
Aku tertawa, dalam hati aku membenarkan ucapan Brett. Aku sangat nervous terbang kali ini, eh, bukan terbangnya, tapi kali ini Padang-nya, dan penerbangan pertama ke Padang-nya. Begitu taxi kami sampai di bandara, aku langsung membuka pintu, menerobos kawanan portir-portir yang menunggu kami di pintu taxi begitu ada taxi berhenti.
"Nggak pak. Bawaan kami sedikit," ucapku menghindari tawaran portir.
Aku mengeluarkan carrier-ku, sedang Brett mengeluarkan kopernya. Brett nggak suka sama sekali memanggul ransel, apalagi berpergian jarak jauh. Kalau kali ini aku memilih memakai ransel dan tidak memakai koper, karena aku belum sempat membeli koper lagi setelah koper kesayanganku hilang di kamar kos.
"Come on, hurry up!" kataku sambil berlari menuju ruang check in.
"Are we going late?"
Aku melihat jam tanganku. Tinggal 3 menit lagi, loket check in akan ditutup.
"Three minutes more.."
Aku berdoa, semoga mbak-mbak penjaga counternya nggak ngamuk-ngamuk seperti biasa kalau aku terlambat check in.
"Check in akan ditutup sebentar lagi!" petugas bandara melihatku tergesa-gesa maka dia segera meneriakiku.
"Jakarta!" teriakku sambil meletakkan dua lembar tiketku di meja check in.
Wajah mbak-mbak yang di hadapanku rada masam. Mungkin dia kesal ama aku yang telat. Aku pasrah aja, sambil terus berdoa semoga tidak terlambat check in. Bisa hangus tiketku, dan kalau hangus, aku harus membeli 2 lembar tiket lagi, berarti 2 juta akan keluar lagi..oh..no!
"Ada bagasi?" mata mbak-mbak di depanku tampak berusaha menarik perhatian orang yang sekarang sedang berdiri di belakangku, menyentuh punggungku. Brett. Aih...kalah ganteng rupanya aku ama bule norak di belakangku!
"I have one," kata Brett menyela sambil membenarkan letak kacamata berbingkai putihnya dan kemeja biru lumutnya. Untung hari ini dia mau kupaksa memakai kemeja normal layaknya laki-laki normal di Indonesia bepergian, bukan baju pantai warna hijau mencolok yang sering dia pilih sebagai pelindung tubuhnya seperti biasa. Brett menyorongkan koper Polonya mendekati tempat penimbang bagasi. Saat ini baru carrier-ku yang ditimbang dan diberi label.
"OK, terima kasih," sahutku kepada mbak-mbak counter setelah semua urusan check in ku beres. Aku menuju ruang tunggu bandara, diikuti Brett. Brett mengeluarkan bungkus rokoknya.
"Don't smoking while you're with me, OK?"
Aku nggak tahan dengan jenis rokok apapun. Seorang teman mengolokku aku kayak banci karena nggak bisa merokok dan nggak tahan asap rokok. Banci?? huh, emang semua banci nggak doyan rokok? Atau apa semua orang yang bisa merokok saja yang nggak banci? Berarti Ibu-Ibu itu sebagian besar banci donk, kan nggak doyan rokok! Huh, Pendapat yang norak!
Brett urung mengeluarkan rokoknya. Dia sangat menghormati aku, yaahh...gimana lagi. Kalaupun dia nekat merokok di dekatku, bisa kuhajar dia. Selama satu jam kemudian kira-kira pukul 11.35, kami sudah boarding di dalam pesawat. Sejam ke depan, aku harusnya sudah sampai di Cengkareng, dan menunggu waktu transit sampai jam 12.35 nanti. Ughh..aku nggak tau mo ngapain aja di Cengkareng berduaan ama bule norak di sampingku.
"I am sleepy now." kataku ke Brett sambil memejamkan mata.
Brett yang duduk di dekat jendela hanya menoleh sebentar. Sejak tadi tangannya sibuk men-ceklak ceklik shotting button di kamera Nikon D80 lensa 18-135mm terbarunya. Entah apa bagusnya foto awan baginya, yang jelas menurut ceritanya sendiri, dia cukup menggemari fotografi sejak dia SMA. Aku tertidur dengan suksesnya, dan aku baru bangun ketika pesawat mendarat dan menimbulkan goncangan kuat di kursiku sampai kepalaku terbentur.
"Arrrghhh!"
"Welcome to Jakarta, dude. Your sleep is soundly."
"Are you serious? Are we arrived in Jakarta?" tanyaku sambil mengucek mataku.
Brett sudah memasukkan kameranya ke dalam tas ranselnya. "Yes, Sir."
Aku bermimpi, kami berdua sudah sampai di Padang, Sumatera Barat, walau aku sendiri bingung dalam penantian menunggu pesawat parkir di terminal. Aku belum pernah ke Padang, lalu bagaimana aku bisa yakin, bandara dalam mimpiku adalah Bandara Padang?
--
16.00
Setelah pesawat mengalami delay selama kurang lebih 30 menit, kami pun terbang lagi, kali ini menuju Tanah Minangkabau, tanah kelahiran Datuk Maringgih dan Siti Nurbaya.
"Have you ever been there?" tanyaku ke Brett sambil membuka peta Kota Padang yang kemarin aku print. Sebenarnya, pertanyaan yang kusampaikan itu jelas-jelas retorik. Aku sudah tahu kalau Brett belum pernah ke Padang. Selama enam bulan dia di Indonesia, dia hanya mengunjungi Bali dan Lombok di luar Jawa. Sisanya dia habiskan berkutat dengan segala kesibukannya di Malvis, kamar kosnya yang sempit sambil bermain rumus-rumus coding dan syntax yang sering bikin kami menderita lahir batin.
"Yeah..you know, I have never been anywhere but Bali and Lombok..However, I have never heard that name before you planned of going there today..hummff..is Padang nice?"
"Yeahhh..you also know, that this flight is my first flight to Padang. Uff!" kami sama-sama kayak dua orang bego yang sedang meributkan sebuah kota bernama Padang.
"I can't wait for more to see Padang," gumamku
"Yeaahh...you will see your future life there,"balasnya sambil menggebuk lenganku dengan gulungan majalah kesehatan Pria, Men's Health.
Pesawat yang kami naiki sudah meninggalkan angkasa Jakarta sejak 20 menit yang lalu. Sekarang aku nggak tahu lagi sedang berada di angkasa sebelah mana. Mungkin Palembang, karena aku melihat corak sungai yang lebar dan panjang membentuk meander di tengah dataran rendah. Setahuku, kota di wilayah Sumatera hampir semuanya dilewati sungai-sungai besar, namun terpanjang masih Sungai Musi yang terletak di Sumatera Selatan. Kami beruntung, walau tadi cuaca cukup mendung sebelum Jakarta, namun melewati Palembang (dugaanku) awannya tidak terlalu padat, dan malah suasananya cerah sekali. Jika pesawat ini tidak lagi delay dan jadwal penerbangan sesuai dengan yang tertera pada boarding pass kami, maka kami akan segera tiba di Bandara Padang sekitar jam 17.30...
(to be continued later)
love. rere. arleynova
Labels: story